HOME | CARI ARTIKEL DI SINI

Sabtu, 16 Januari 2016

Mukzizat Pada Detik Detik Kelahiran Rasulullah SAW

Kamis, 14 Januari 2016

As-Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi

Al-Imam Asy-Syaikhul Kabir As-Sayyid Ahmad Al-Muhajir bin Isa Ar-Rumi wafat pada 345H/956M, dan dimakamkan di Syi’b Makhdam, Husaisah, Hadramaut. Semoga Allah mengurniakan sebaik-baik balasan kepada Imam yang berjasa ini. Karena dari beliaulah lahirnya keturunan Ba’Alawi yang sangat berjasa dalam mengembangkan Islam sehingga sampai ke Indonesia dan seterusnya mendidik umat Islam dibumi ini untuk mencintai Allah dan rasulNYA.
sumber

HABIB ALI KWITANG, HABIB ALI BUNGUR DAN HABIB SALIM BIN JINDAN

Sebuah kisah Renungan 
(Jangan Pernah Membanding-Banding Ulama) 
----------------------------------------------------
HABIB ALI KWITANG, HABIB ALI BUNGUR DAN HABIB SALIM BIN JINDAN
Ada seseorang bertanya kepada al-Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi (Kwitang): “Bib hukum makan babi bagi seorang muslim apa?”Maka dijawab Habib Ali Kwitang: “Haram.”Lalu orang itu datang kepada al Habib Ali bin Husein Alatas (Bungur) dan bertanya dengan
pertanyaan yang sama: “Bib hukumnya makan babi bagi seorang muslim apa? ”Maka dijawab oleh Habib Ali Bungur: “Haram.”Lalu orang itu datang
kepada al-Habib Salim bin Jindan dan bertanya seperti semula: “Bib hukumnya makan babi bagi seorang muslim apa?”Maka dijawab oleh Habib
Salim bin Jindan: “Boleh dan halal kalau buat ente…?!”Lalu orang itu kembali datang menemui Habib Ali Kwitang dan mengadukan atas jawaban Habib Salim bin Jindan yang menjawab pertanyaannya itu. Maka Habib Ali Kwitang memanggil Habib Ali Bungur dan juga Habib Salim bin Jindan untuk berkumpul di Majelis Kwitang. Setelah semuanya sudah kumpul, maka Habib Ali
Kwitang bertanya kepada Habib Salim bin Jindan: “Ya iyed Salim, apakah iyed menjawab bahwa
makan babi itu hukumnya boleh dan halal buat orang ini yang dia seorang muslim?”Lantas Habib Salim bin Jindan menjawab: “Ya Habibana Ali,
hukumnya boleh (mubah) dan halal untuk seekor anjing makan babi, sebab orang ini
adalah anjing berwujud manusia. Kenapa ana bilang orang ini anjing? Sebab dia sudah bertanya tentang hukum agama dengan seorang ulama
yaitu Antum ya Habibana Ali Al Habsyi Kenapa dia trus bertanya lagi kepada Habibana Ali Bungur dan juga dia bertanya lagi kepada ana, maka orang seperti ini golongan orang yang suka membanding-bandingkan ulama dengan ulama lain.
Maka dia pantas
untuk disebut anjing.”

sumberali

SUARA GENDERANG “PERANG BADR “ MASIH TERDENGAR HINGGA KINI

Disaat Abuya Al Imam Al Muhaddist As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Al Maliki ra mengisahkan diri beliau ketika masih usia muda, yang mana beliau sering diajak oleh abahnya, yakni Asy-Syaikh Al Kabir As- Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki Al-Hasaniberziarah ke Madinah yakni ke makam Baginda Rasulullah SAW.
Dizaman dulu jalan yang ditempuh untuk ke Madinah ialah melewati jalan lama ( Thoriq Qodim ), dinamakan jalan lama dikarenakan pemerintahan Arab Saudi sekitar tahun 1985 an membuat jalan baru dan dikasih nama “ Thoriq al-Hijroh “ yang relatif lebih luas dan lebih dekat jarak tempuhnya dibanding dengan jalan lama. Namun dijalan yang baru ini tidak melewati beberapa tempat yang bersejarah yang pernah dilewati oleh Baginda Rasulullah SAW seperti daerah “ USFAN “, dimana Baginda Rasulullah SAW dan para Sahabat-sahabatnya pernah singgah disana, dan ada juga sumur yang sangat bersejarah, yang mana sumur tersebut awalnya airnya berasa asin dan pahit, namun berubah tawar setelah diludahi oleh Baginda Rasulullah SAW
Sedangkan jalan yang baru tersebut juga tidak melintasi daerah “ Badr “ yang mana pada perang Badr tersebut adalah suatu peristiwa peperangan pertama antara kaum muslimin dan kaum kafir.
Lanjut cerita, ketika Sayyid Alawi bersama rombongannya ( yang didalamnya juga terdapat Abuya Sayyid Muhammad ) berangkat menuju Madinah, dan sesampainya di Badr, biasanya langsung melakukan ziarah, kemudian beristirahat disana, namun kali ini beliau beristirahat dulu di salah satu rumah yang mana rumah tersebut miliknya salah satu rumah orang yang masih punya keturunan ahli Badr tersebut.
Ketika dimalam hari yang sunyi nan dingin, Sayyid Alawi beserta rombongan sedang duduk-duduk santai didepan halaman rumah tersebut, tiba-tiba mereka mendengar suara genderang yang dipukul oleh orang banyak. Awalnya terdengar sayup bertalu-talu namun semakin lama semakin terdengar jelas. Kemudian Sayyid Alawi pun bertanya kepada sang pemilik rumah, “ Suara apa itu ?, apa ada acara disini ?” “ tidak wahai Sayyid, itu suara sudah biasa terdengar disaat malam sepi seperti ini “ jawab sang tuan rumah, “ Lalu suara apa itu “ Tanya Sayyid Alawi, “ itu suara genderang Ahli Badr yang masih terdengar hingga saat ini “ jawab sang tuan rumah.
Sebagian yang lain ketika mendengar suara itu merasa merinding dan ketakutan, namun lain halnya dengan Sayyid Alawi yang tetap tenang, dan menganggapnya biasa-biasa saja, karena beliau sendiri juga sudah lama mengetahuinya, namun baru kali ini mendenganra secara langsung.
Dan suara ini juga pernah Abuya Sayyid Muhammad Alawi al-maliki dengar ketika beliau berziarah ke Ahli Badr diwaktu malam bersama para murid-muridnya yang senior.
Wallohu A’lam
*Diambil Dari Petikan Taklim Bersama Abuya As-Sayyid Muhammad Bin Alawi Bin Abbas Al Maliki Al Hasani ra.

NABI ADAM A.S BERTANYA APA MAHARNYA ?

Ketika Nabi Adam turun dari mimbar terus beliau duduk diantara para malaikat,maka Allah Ta'ala menidurkan nabi adam a.s.
Dan di dalam tidur nyenyaknya, Nabi Adam melihat ibunda hawa dalam mimpinya sebelum siti hawa diciptakan. Setelah melihatnya,akhirnya Adam a.s jatuh hati padanya
kemudian Allah Ta'ala menciptakan ibu hawa dari tulang rusuk bagian kiri nabi adam.
Allah Ta'ala menciptakan hawa sama bentuknya dengan nabi adam dan mempercantik ciptaannya dan memberikannya kecantikan melebihi seribu (1000) bidadari.
Allah Ta'ala memberikan gelang dan perhiasan dari surga yang mengkilap melebihi sinar matahari kepada Ibunda Hawa.
Setelah itu nabi adam terbangun dan tiba-tiba siti hawa sudah ada disampingnya, Adam a.s heran,kagum dan jatuh cinta padanya, Nabi Adam a.s diberikan syahwat.
Lalu dikatakan pada nabi adam :
"Jangan engkau lakukan sehingga engkau mendatangkan maharnya! ".
Nabi adam a.s bertanya "apa mahar/mas kawinnya?
وقيل ان الله تعالى قال أعطها صداقا قال وما صداقها قال الصلاة على نبي وحبيبى محمد فقال آدم يارب وما يكون محمد قال إنه من أولادك وهو آخر الأنبياء ولولاه ما خلقت خلقا
Dan dikatakan,sesungguhnya Allah berfirman "berilah dia mahar"
nabi adam bertanya "apa maharnya?
Allah 'Azza Wa Jalla menjawab: "bacalah sholawat pada nabiKU dan kekasihKU Muhammad !
Nabi adam bertanya,Ya Rabbi siapa Muhammad itu?
Allah 'Azza Wa Jalla menjawab: "Sesungguhnya dia adalah dari anak cucumu dan dialah penutup para nabi,jika tanpa muhammad maka AKU tidak akan menciptakan mahluk!
Allahu Akbar!!..

7 BACAAN DZIKIR PEMBUKA PINTU REZEKI

1. Memperbanyak Membaca"Lahawla Wala Quwwata Illa billah" Barang siapa yang lambat datang rezekinya hendaklah banyak mengucapkan "La hawla Wala Quwwata Illa billah." (HR. At-Tabrani)
2. Membaca "La Ilaha Illallahul Malikul Haqqul Mubin" Barang siapa setiap hari membaca La ilaha illallahul malikul haqqul mubin maka bacaan itu akan menjadi keamanan dari kefakiran dan menjadi penenteram dari rasa takut dalam kubur. (HR. Abu Nu’aim dan Ad Dailami)
3. Melanggengkan Ber-Istighfar"Barang siapa melanggengkan beristighfar niscaya Allah SWT akan mengeluarkan dia dari segala kesusahan dan memberikan rezki dari arah yang tidak diduga²." (HR. Ahmad, Abu Dawud dan Ibnu Majjah)
4. Membaca Surat Al-Ikhlas"Barangsiapa mmbaca Surat Al-Ikhlas ketika masuk rumah maka berkah bacaan menghilangkan kefakiran dari penghuni rumah dan tetangganya." (HR. At-Tabrani)
5. Membaca Surat Al-Waqiah"Barangsiapa membaca surat Al-Waqiah setiap malam, maka tidak akan ditimpa kesempitan hidup." (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab Al Iman)
6. Memperbanyak Shalawat Atas Nabi "Ubay Bin Ka’ab meriwayatkan, bila telah berlalu sepertiga malam, Rasulullah Salallahu’alaih ¬ iwassalam berdiri seraya bersabda: "Wahai Manusia Berdzikirlah Mengingat Allah, berdzikirlah mengingat Allah. Akan datang tiupan (sangkakala kiamat) pertama, kemudian diiringi tiupan kedua. Akan datang kematian dan segala kesulitan didalamnya."
7. "Membaca Subhanallah wabihamdihi Subhanallahil adziim. Dari setiap kalimat itu seorang malaikat yang bertasbih kepada Allah Ta’ala sampai hari kiamat yang pahala tasbihnya itu diberikan untukmu." (HR. Al-Mustagfiri dalam Ad-Da’awat).
Semoga kita semua diberikan oleh Allah rezki dari arah yang tanpa di sangka-sangka. ....
Aamiin YRA.

Rabu, 30 Desember 2015

Surga Tidak gratis

Al Imam Al Allamah Al Arifbillah "Abuya" As-Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki Al Hasani“
Al Jannah Ma Hi Balasy” (Surga Tidak gratis) dan “Ala Roqobatii Ma Uwaqqi” (Aku Tidak akan Tanda tangan Walau Leher Taruhannya).
Kalimat yang pertama diatas dikatakan oleh as Sayyid Muhammad al Maliki, Imam Ahlus Sunnah wal Jama’ah Abad ini, yang oleh murid-murid dan pencintanya beliau akrab dipanggil “Abuya”. Bagi murid-murid dan pencinta beliau, mutu manikam ini sudah tidak asing lagi. Mengingat asbabul wurud dan moment keluarnya kalimat tersebut dari lisan Abuya Sayyid Muhammad sungguh sangat fenomenal.
Konon, kalimat tersebut diucapkan oleh Abuya Sayyid Muhammad ketika beliau sudah diputuskan untuk di “i’dam” (hukum penggal) oleh pemerintah Saudi, sebagai negeri asal beliau. Menurut penuturan dari santri-santri senior beliau, ketika itu, sekitar tahun 70-an beliau mendapat panggilan dari Raja Saudi, ketika itu masih Raja Fahad bin Abdul Aziz. Kertas surat panggilannya berwarna merah. Semua masyarakat Saudi tahu bahwa jika ada penduduk Saudi dipanggil pemerintah dengan suratpanggilan berwarna merah, pasti yang bersangkutan di i’dam atau paling tidak kalau memang tidak di i’dam, dipenjara.
Sebelum memenuhi panggilan Raja, Abuya Sayyid Muhammad memerintahkan kepada murid-muridnya untuk membacakan aurad dan adzkar untuk keselamatan beliau. Murid-murid beliau yang biasanya setiap hari tiada henti belajar, saat itu kegiatan belajar mengajar di Masyru’ nya (Masyru’: istilah untuk pesantren Abuya) dihentikan. Hanya diisi dengan aurad dan adzkar saja. Dan saat itu beliau senantiasa berwasiat kepada santri-santrinya agar mereka tetap teguh dan tidak goyah untuk meneruskan perjuangan beliau, jika beliau dalam waktu dekat sudah tidak lagi bersama mereka. Sehari sebelum diwajibkannya Abuya Sayyid Muhammad menghadap Raja, beliau sudah berada di Riyadl, sebagai ibu kota Saudi Arabia.
Tepat pada hari dimana Abuya Sayyid Muhammad diwajibkan datang ke Istana Raja, Beliau dijemput oleh Amir Salman (yang saat ini sudah menjadi Raja Saudi). Sebagai catatan, bahwa saat itu jika ada penduduk Saudi yang ada masalah dengan pemerintah Saudi dan diputuskan untuk di i’dam, pasti Salman yang mengurusnya.
Pertama kali Salman bertemu Sayyid Muhammad, dia langsung berkata kepada Sayyid Muhammad, “Ya Muhammad, jika ada penduduk Saudi dipanggil pemerintah menggunakan kertas merah dan saya yang mengurusinya, tentu kamu sudah tahu mau diapakan orang tersebut”, Salman bermaksud menggertak dan mengkerdilkan hati Abuya Sayyid Muhammad.
Akan tetapi, digertak seperti itu, Abuya Sayyid Muhammad sama sekali tidak gentar. Mendengar Ucapan Salman itu, justru Abuya Sayyid Muhammad malah seperti “macan dibangunkan dari tidurnya”. Saat itulah beliau menjawab, “AL JANNAH MA HI BALASY, YA SALMAN” (Surga tidak gratis, ya Salman). Allah Akbar. Sebuah kalimat yang benar-benar mencerminkan keberanian pengucapnya.
Singkat cerita, entah apa yang terjadi pada Raja Fahad, akhirnya hari itu Sayyid Muhammad tidak jadi bertemu dengan Raja Fahad, karena Fahad akan bepergian ke luar negeri. Dan Abuya Sayyid Muhammad sudah diperbolehkan pulang ke Makkah. Semua heran atas sikap Fahd yang langsung berubah 360 derajat. Apakah benar dia urung meng- “i’dam” Sayyid Muhammad hanya karena lantaran dia sibuk akan bepergian atau entah karena sebab yang lain, wallahu a’lam.