HOME | CARI ARTIKEL DI SINI

Tampilkan postingan dengan label Ustaz Iqbal Zain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ustaz Iqbal Zain. Tampilkan semua postingan

Minggu, 20 September 2015

HIKMAH DISEBALIK RUNTUHAN KREN TERTIMPA JEMAAH HAJI

Ada beberapa keutamaan Jemaah Haji yang menjadi korban tertimpa kren di Masjidil Haram. Dan hanya Allah yang lebih Maha Mengetahui hikmah dalam masalah ini.Wallahu a'lam. Diantaranya :
1. Meninggal di hari yang mulia, yaitu Jumaat.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : « مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَمُوتُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَوْ لَيْلَةَ الْجُمُعَةِ إِلَّا وَقَاهُ اللَّهُ فِتْنَةَ الْقَبْرِ »
Ertinya: "Dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim meninggal dunia pada hari Jumat atau pada malam Jumat melainkan Allah akan melindunginya dari fitnah (pertanyaan) kubur.” (HR. At-Tirmidzi, Ahmad, Humaid, Abu Ya'la, dan Al-Baihaqi).
2. Meninggal kerana tertimpa runtuhan.
Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:
الشُّهَدَاءُ خَمْسَةٌ: الْمَطْعُوْنُ وَالْمَبْطُوْنُ وَالْغَرِقُ وَصاَحِبُ الْهَدْمِ وَالشَّهِيْدُ فِي سَبِيْلِ اللهِ
“Syuhada itu ada lima, yaitu orang yang meninggal kerana penyakit ta’un, orang yang meninggal kerana penyakit perut, orang yang mati tenggelam, orang yang meninggal kerana tertimpa runtuhan, dan orang yang gugur di jalan Allah.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Hurairah).
3. Meninggal di jalan Allah, yaitu sedang atau akan beribadah haji.
Abu Hurairah radhiyallahu anhu menyampaikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam :
مَا تَعُدُّوْنَ الشَّهِيْدَ فِيْكُمْ؟ قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ. قَالَ: إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيْلٌ. قَالُوْا: فَمَنْ هُمْ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ, وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيْلِ اللهِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فيِ الطَّاعُوْنَ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيْدٌ، وَالْغَرِيْقُ شَهِيْدٌ
“Siapa yang terhitung syahid menurut anggapan kalian?” Mereka menjawab, “Wahai Rasulullah, siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid.” Beliau menanggapi, “Kalau begitu, syuhada dari kalangan umatku hanya sedikit.” “Bila demikian, siapakah mereka yang dikatakan mati syahid, wahai Rasulullah?” tanya para sahabat. Beliau menjawab, “Siapa yang terbunuh di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal di jalan Allah maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit tha’un2 maka ia syahid, siapa yang meninggal karena penyakit perut maka ia syahid, dan siapa yang tenggelam ia syahid.” (HR. Muslim)
4. Meninggal ketika sedang beramal solih.
Hudzaifah radhiyallahu anhu menyampaikan sabda Rasulullah shalallahu alaihi wasallam:
مَنْ قَالَ: لاَ إِلهَ إِلاَّ الله ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ. وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ
“Siapa yang mengucapkan La ilaaha illallah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang berpuasa sehari karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk surga. Siapa yang bersedekah dengan satu sedekah karena mengharapkan wajah Allah yang ia menutup hidupnya dengan amal tersebut maka ia masuk syurga.” (HR. Ahmad, sanadnya sahih).
Semoga Allah menerima amalan para korban jatuhnya crane di Masjidil Haram dan menjadikan mereka sbg para syuhada.
Innalillah wa inna ilaihi rooji'uun Taqobbalahumullah minas syuhadaa..
Innalillah Wa inna laihi Rooji'un
AL FATIHAH...
(Al-Habib Idrus Bin Abdullah al-Jufri)
sumber

Minggu, 23 Agustus 2015

11 KELEBIHAN MENANGIS KERANA ALLAH SWT.

Menangis merupakan tabiat semula jadi setiap individu manusia. Sama ada menangis kerana gembira, menangis kerana bersedih atau menangis kerana kecewa.
Namun demikian Pernahkah seumur hidup kita menangis.
1. Menangis ikhlas kerana Allah SWT ?
2. Menangis karena cintanya kepada Allah SWT ?
3. Menangis kerana takut akan azab Allah SWT ?
4. Menangis kerana dosa-dosa masa lalu kita?
5. Menangis kerana lemahnya iman kita di hadapan Allah SWT ?
6. Menangis kerana bergetar hati kita ketika nama Allah SWT disebut?
7. Menangis kerana berguncangnya jiwa kita ketika mengingat amalan-amalan masa lalu kita.
Oleh karena itu tangisan inilah tangisan keimanan, tangisan keinsafan, tangisan ketulusan hati, tangisan hanifnya jiwa, tangisan tidak berdayanya kita. Semua tangisan tersebut semata-mata kerana Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalamal-Qur’an surah Al-Anfal ayat 2:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَاناً وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
Ertinya:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka karenanya dan hanya kepada Rabb mereka, mereka bertawakkal.” (QS. Al-Anfal: 2)
Menangis yang disunnahkan dalam Islam, tentu sahaja bukan asal menangis, tapi menangis karena takut kepada Allah SWT.
Kita takut kepada-Nya karena Allah SWT adalah Zat Yang Maha Kuasa dan Perkasa, sedangkan kita sebagai manusia tidak punya daya upaya melainkan di atas izin dari Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah At-Taubah ayat 82:
فَلْيَضْحَكُوا قَلِيلًا وَلْيَبْكُوا كَثِيرًا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Ertinya :
”Maka hendaklah mereka tertawa sedikit dan banyak menangis, sebagai pembalasan dari apa yang selalu mereka kerjakan.” (QS. At-Taubah: 82).
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah Al-Isra ayat 109:
وَيَخِرُّونَ لِلْأَذْقَانِ يَبْكُونَ وَيَزِيدُهُمْ خُشُوعًا
Ertinya :
” Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Al-Isrâ´: 109)
Pada TAZKIRAH hari iji, ingin diterangkan sedikit tentang Fadhilat atau Keutamaan Menangis kerana Allah SWT iaitu:
1. Menangis karena Allah SWT, akan mendapatkan naungan Allah SWT pada hari akhirat kelak yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya
Rasulullah SAW bersabda, ”Ada 7 (tujuh) golongan yang akan dinaungi oleh Allah SWT itu bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya:
1) Imam (pemimpin) yang adil.
2) pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Rabb-Nya.
3) seseorang yang hatinya terkait dengan masjid.
4) dua orang yang saling mencintai karena Allah.
5) seorang laki-laki yang di pujuk oleh wanita yang memiliki kedudukan lagi berparas cantik, lalu ia berkata: ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allah SWT.
6) Seseorang yang bershadaqah secara sembunyi sembunyi, sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya,
7) dan Seseorang yang menyendiri untuk mengingat Allah SWT, lalu berlinanglah air matanya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).
2. Menangis kerana Allah SWT, tidak akan masuk Neraka, bahkan api Neraka tidak akan pernah menyentuhnya
Rasulullah SAW bersabda:
”Tidak akan masuk ke dalam api neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah SWT hingga air susu ibu (yang sudah diminum oleh anaknya) akan kembali ke tempat asalnya.” (HR. at-Tirmidzi).
Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW juga bersabda:
” 2 mata, yang keduanya tidak akan tersentuh api Neraka iaitu:
1) Mata yang menangis karena takut kepada Allah,
2) Mata yang dimalam hari berjaga-jaga pada jalan Allah.” (HR. At-Tirmidzi).
3. Menangis kerana Allah SWT, akan mendapatkan keberuntungan dengan memperoleh kecintaan daripada Allah SWT ke atas mereka.
Rasullullah Saw bersabda:
” Tidak ada sesuatu yang lebih dicintai Allah SWT daripada dua tetes dan dua bekas: iaitu tetesan air mata karena takut kepada AllahSWT, dan tetesan darah yang tumpah di jalan Allah SWT dengan berjihad. Adapun dua bekas: iaitu bekas dijalan Allah SWT, dan bekas dalam menjalankan apa-apa yang difardhukan oleh Allah SWT.” (HR. At-Tirmidzi).
4. Menangis kerana Allah SWT, akan mendapatkan keberuntungan dengan di berikan pohon Thuba di dalam syurga.
Rasulullah SAW bersabda, ” Thuba bagi orang yang dapat mengendalikan lidahnya, orang yang meluaskan rumahnya (untuk menerima tetamu ) dan orang yang menangis karena kesalahan-kesalahan masa lalunya.” (HR. At-Tirmidzi)
Nabi SAW telah menerangkan pohon Thuba dalam sabda-nya:
” Thuba adalah sebuah pohon di surga sejauh perjalanan seratus tahun. Pakaian penduduk surga keluar dari tangkai-tangkai kelopak bunganya.” (HR. At-Tirmidzi).
5. Menangis karena Allah SWT, akan digolongkan sebagai orang-orang yang taat kepada Rasulullah SAW.
Seorang sahabat Rasulullah SAW bertanya kepada beliau: ” Wahai Rasulullah, apakah an-Najaah(keselamatan) itu” Maka beliau bersabda: “Kendalikan lidahmu, hendaknya luaskan rumahmu (menerima tetamu), dan menangislah atas kesalahan-kesalahanmu.” (HR. At-Tirmidzi)
6. Menangis kerana Allah SWT, akan mendapatkan bahagian dalam menteladani akhlak Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Ia akan mendapatkan kenikmatan dan kemuliaan dengannya. Termasuk petunjuk Nabi SAW dan para sahabat beliau RA sepeninggalannya adalah menangis karena takut kepada Allah SWT.
7. Menangis kerana Allah SWT, akan mendapatkan bahagian dari meneladani akhlak para Nabi yang telah diberikan kenikmatan oleh Allah SWT kepada mereka.
LklAllah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah Maryam ayat 58:
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ مِنْ ذُرِّيَّةِ آدَمَ وَمِمَّنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ وَمِنْ ذُرِّيَّةِ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْرَائِيلَ وَمِمَّنْ هَدَيْنَا وَاجْتَبَيْنَا ۚ إِذَا تُتْلَىٰ عَلَيْهِمْ آيَاتُ الرَّحْمَٰنِ خَرُّوا سُجَّدًا وَبُكِيًّا
Ertinya :
” Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (QS. Maryam : 58).
8. Menangis kerana Allah SWT, keimanannya akan ditambah oleh Allah SWT.
Kita berkeyakinan bahawa keimanan seseorang akan bertambah kuat dengan ketaatan dan akan berkurang dengan maksiat.
Menangis kerana takut kepada Allah SWT merupakan salah satu ketaatan yang paling mulia dan paling dicintai Allah SWT karena peranannya dalam menambah keimanan seseorang kepada Allah SWT .
9. Menangis kerana Allah SWT, akan dikaruniai rizki oleh Allah SWT dari sesuatu yang tidak disangka-sangka, dan Allah SWT akan memberikan jalan keluar dari setiap kesempitan yang menimpa mereka
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah Ath-Thalaaq ayat 23:
وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُ وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ إِنَّ اللَّهَ بَالِغُ أَمْرِهِ قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لِكُلِّ شَيْءٍ قَدْرًا
Ertinya:
” Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS. Ath-Thalaaq: 23)
10. Menangis kerana Allah SWT, akan dimudahkan urusannya oleh Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an surah Ath-Thalaaq ayat 4:
وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مِنْ أَمْرِهِ يُسْرًا …
Ertinya :
“… Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah memberikan kepadanya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaaq: 4)
11. Setelah masuk syurga, orang beriman yang menangis kerana Allah SWT di dunia, maka akan saling mengingatkan satu sama lain akan tangisan mereka ketika di akhirat nanti .
Allah SWT berfirman dalam QS. Ath-Thuur ayat 25-28:
وَأَقْبَلَ بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ يَتَسَاءَلُونَ (٢٥)قَالُوا إِنَّا كُنَّا قَبْلُ فِي أَهْلِنَا مُشْفِقِينَ (٢٦)فَمَنَّ اللَّهُ عَلَيْنَا وَوَقَانَا عَذَابَ السَّمُومِ (٢٧)إِنَّا كُنَّا مِنْ قَبْلُ نَدْعُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْبَرُّ الرَّحِيمُ (٢٨
Ertinya:
“Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling bertanya. Mereka berkata: ‘sesungguhnya kami dahulu ketika berada di tengah keluarga kami merasa takut (akan diadzab).’ Maka Allah memberikan karunia kami dan memelihara kami dari adzab Neraka. Sesungguhnya kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” (QS. Ath-Thuur: 25-28).
Kita sepatutnya merenung kalau kita tidak pernah menangis kerana Allah SWT. Pasti ada yang tak kena pada diri kita. Mungkin hati kita sudah mengeras, mungkin jiwa kita sudah kering, mungkin dosa yang sudah meliputi hati dan fikiran kita.
Oleh kerana itu menangislah sebanyak-banyaknya karena takut kepada Allah SWT, hal itu menunjukkan jiwa kita masih lembut. Jiwa yang lembut dan sensitif akan dapat menyelamatkan kita. Karena itu, berusahalah selalu menangis karena Allah SWT, sehingga Allah SWT redho dan mencintai diri kita di dunia dan akhirat kelak.
Ya Allah jadikan hati -hati kami hati yang lembut, serta permudahkan hati kami untuk sentiasa mengingatimu. Semoga tangisan yang keluar dari hati dan jiwa kami untuk sentiasa istiqomah di jalan-Mu, akan menjadikan asbab mudahnya jalan kami untuk menuju syurga -Mu. aamiinn Yaa Robbal 'Aalamiin !!!!!
Wallahu A'lam.
Doakan istiqamah serta Sihat wal Afiat.
Wassalam USM. (Ustaz Sihabuddin Muhaemin).
Catatan:
ILMU ITU HANYA MILIK ALLAH SWT UNTUK DISEBARKAN.
SILA KONGSIKAN DENGAN SESAMA SAUDARA.
Mudah-Mudahan bermanfaat Untuk Semua.
Di Dunia Dan Di Akhirat Nanti. Insya-Allah. Aamiinn !!!!!
USM - Sihabuddin Muhaemin.
sumber

MELIHAT ALLAH MELALUI SIFAT & ZATNYA

Syekh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Melihat Allah SWT itu boleh dilakukan dengan dua macam. Pertama, melihat Jamalullah tanpa perantara cermin kalbu di akhirat (Alam Lahut). Kedua, melihat sifat Allah SWT di muka bumi dengan perantara cermin kalbu, yakni dengan penglihatan mata hati (fuad) dari pantulan cahaya Jamalullah.”
Allah SWT berfirman, “hatinya tidak berdusta terhadap apa yang dilihatnya,” (QS An-Najm [53]: 11)
Rasulullah SAW bersabda, “Al-mu’minu miratul-Mu’min. (Kalbu seorang mukmin adalan cermin daei Allah yang bersifat Al-Mukmin)” -HR Abu Dawud.
Kata “mu’min” yang pertama pada hadis di atas adalah kalbu hamba Allah yang beriman, sedangkan kata “al-Mu’min” yang kedua adalah Zat Allah yang memiliki sifat Al-Mukmin.
Penglihatan yang dimaksud di atas adalah penglihatan pada sifat-sifat Allah SWT dari segala sesuatu yang ada dan terjadi di muka bumi ini. Seperti hanyanya saat seseorang melihat sinar matahari dari misykat (lubang yang tidak tembus), maka bisa saja dia berkata “Aku melihat matahari dengan cara apa pun.”
Allah SWT memberi perumpamaan dalam Al-Quran: “Perumpamaan cahaya Allah adalah seperti lubang yang tidak tembus di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca dan kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon zaitun.”(QS An-Nur [24]: 35).
Para ahli tasawuf mengatakan bahawa yang dimaksud dengan misykat adalah kalbu orang Mukmin. Sedangkan yang dimaksud dengan Sirr Al-Fuad (rahasia mata hati) yaitu Ruh Sulthani dalam diri manusia. Adapun Fuad adalah (mata hati) yang Allah sifati dengan gemerlapan kerana kekuatan yang luar biasa.
Di ayat itu pula, Allah SWT menjelaskan tentang sumber cahaya, yakni pohon talqin dan tauhid yang murni keluar dari Lisan Al-Qudsi tanpa perantara. Hal tersebut seperti saat Nabi Muhammad SAW menerima Al-Quran dari Allah secara utuh, kemudian malaikat Jibrail menyampaikan kepada Nabi secara berangsur-angsur untuk kemaslahatan umat dan meluruskan keingkaran orang kafir dan munafik.
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirrul Asrar
sumber

Senin, 10 Agustus 2015

KENALI SAJA DIRIMU NESCAYA AKAN KENAL TUHANMU

Sedarilah sifat-sifatmu, maka Allah membantumu dengan sifat-sifat-Nya. Akuilah saja kehinaanmu, maka Allah akan membantumu dengan kemuliaan-Nya. Akui saja ketidakberdayaanmu, maka Allah membantumu dengan kekuasaan-Nya. Dan, akui saja kelemahanmu, niscaya Allah membantumu dengan kekuatan-Nya.
--Ibnu Atha'illah dalam Al-Hikam.
Man 'arafa nafsahu faqad 'arafa rabbahu (barangsiapa mengenali dirinya maka dia akan mengenali Tuhannya). Ternyata, dengan menyedari tentang sifat-sifat dasar kemanusiawian, justeru akan menyedarkan kita tentang sifat-sifat Ilahiyah, yang bertentangan dengan sifat-sifat tersebut.
Pengakuan kita akan keterbatasan, kebutuhan, dan kehambaan, akan terpantul dalam cermin yang sempurna dari kekuasaan dan cahaya-Nya yang tak terbatas.
Keadaan jujur dan ikhlas dalam diri seorang hamba akan memunculkan cahaya rahmat, kemurahan dan kurnia-Nya yang kekal.
sumber

Minggu, 09 Agustus 2015

MENEMBUS KE DIMENSI BATIN MENERUSI SOLAT

Zikir dan solat khusyuk yang kita lakukan adalah perantaraan untuk memasuki beberapa lapis dari dimensi alam ruhani. Solat yang kita kerjakan seperti layaknya mi’raj yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Kita berusaha merasakan kehadiran Allah dalam diri dan menghadap-Nya. Jika di dunia saja kita tidak pernah merasakan kedalaman batin semacam ini, bagaimana mungkin berkesempatan melihat wajah-Nya di alam akhirat. Mari menggali potensi dan daya ruhani kita selagi ada kesempatan.
Rasulullah SAW bersabda, “Kalian akan melihat Tuhan kalian, seperti kalian melihat bulan pada malam purnama.” (HR. Al-Bukhari).
“Allah memiliki syurga yang di dalamnya tidak ada bidadari dan istana, tanpa madu dan susu. Kenikmatan di syurga itu hanya satu, iaitu melihat Zat Allah. Sebagaimana yang difirmankan Allah SWT, ‘Wajah-wajah (orang-orang Mu’min) pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannyalah mereka melihat.’” (QS. Al-Qiyâmah [75]: 22-23).
Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan, “Andaikan malaikat dan jasmani memaksa masuk ke alam ini (Alam Lahut) yakni segala sesuatu selain Ruh Al-Qudsi, maka keduanya pasti akan terbakar.
Sebagaimana firman Allah dalam Hadis Qudsi, “Seandainya dibuka kesucian wajah-Ku yang Mulia maka pastilah terbakar segala sesuatu sejauh ‘mata-Ku’ memandang.” (HR. Muslim).
Sebagaimana juga yang diungkapkan Jibril AS., “Andaikan aku mendekat, pastilah aku terbakar.”
--Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Sirrul Asrar

sumber

CINTAI ALLAH SEIKHLAS MUNGKIN...TANPA DALIL

Dalam Kitab kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha, Imam Al-Ghazali menuturkan bahawa Abu Sulaiman berkata, “Siapa saja yang hari ini sibuk dengan dirinya sendiri, maka besok dia juga akan sibuk dengan dirinya sendiri.
Siapa saja yang hari ini sibuk dengan Tuhannya, maka besok dia akan sibuk dengan Tuhannya.”
Sufyan Ats-Tsauri suatu ketika bertanya kepada Rabi’ah Al-Adawiyah, “Apa hakikat imanmu?” Lalu dia menjawab, “Aku tidak menyembah-Nya kerana takut neraka atau berharap syurga. Aku tidak seperti buruh yang jahat— yang jika dibayar bahagia, jika tak dibayar bersedih—Aku menyembah-Nya semata-mata kerana cinta dan rindu kepada-Nya.”
--Imam Al-Ghazali dalam kitab Al-Mahabbah wa al-Syawq wa al-Uns wa al-Ridha

sumber

Sabtu, 08 Agustus 2015

MUDAH DAN RINGKAS... TAPI PADAT INTINYA

Rasulullah tidak pernah tidur sebelum mencium Fatimah. Pernah suatu ketika ditegur dan ditanya salah satu isterinya, kenapa engkau selalu mencium Fatimah? Rasulullah menjawab, ‘setiap kali aku rindu syurga aku mendapatkan semerbak bau harum syurga pada diri Fatimah’.
Suatu hari Siti Fatimah sudah masuk di kamarnya, sudah di dalam selimutnya, mahu tidur. Rasulullah mengetuk pintu biliknya, kemudian Rasulullah masuk dan Siti Fatimah bangun, kata Rasulullah ‘jangan, tetaplah kamu di tempat tidurmu’.
Kemudian beliau bersabda ‘puteriku Fatimah, kamu jangan tidur sebelum mengkhatamkan Al-Quran. Kamu jangan tidur sebelum menjadikan seluruh nabi memberikan syafaat untukmu. Kamu jangan tidur sebelum merelakan atau memberi kerelaan kepada seluruh kaum mukminin-mukminat di dunia ini. Dan terakhir wahai putriku Fatimah jangan kamu tidur sebelum kamu Umrah dan Haji’.
Permintaan yang sulit semua. Sebelum tidur khatam Al-Quran. Sebelum tidur menjadikan seluruh Nabi memberikan syafaat. Sebelum tidur merelakan kaum mukminin-mukminat. Sebelum tidur Umrah dan Haji.
Siti Fatimah terkejut mendapatkan perintah ini. Sebelum sempat Fatimah berkata, Rasulullah solat dua rakaat di kamar Siti Fatimah. Siti Fatimah duduk menanti selesai shalat ayahnya untuk menanyakan tentang perintah tadi.
Setelah Rasulullah salam, Siti Fatimah berkata, ‘ayahku, siapa yang mampu sebelum tidur khatam Al-Quran, menjadikan para Nabi memberi syafaat, merelakan seluruh kaum mukminin-mukminat, dan melaksanakan Umrah dan Haji?’
Rasulullah tersenyum kemudian beliau bersabda, ‘bukan begitu putriku, bukankah engkau kalau membaca Qulhuwallahu Ahad (Surah Al-Ikhlas) sebanyak 3x dihitung seperti khatam Al-Quran. Kedua, berselawatlah kepadaku dan seluruh para nabi, nanti kami semua siap memberi syafaat. Ketiga, doakan kaum mukminin-mukminat; Astaghfirullah lil mukminina wal mukminat, supaya semua kaum mukminin-mukminat rela kepadamu. Ke empat, Umrah dan Haji yang kumaksud ialah membaca;
Subhanallah, walhamdulillah, wa Laa Ilaha Illallah, wa Allahu Akbar, maka pahalanya seperti kamu melakukan Umrah dan Haji’.
Jadi inilah amalan yang diajarkan Rasulullah kepada puterinya Fatimah. Dan mari kita amalkan dan ajarkan kepada anak-anak kita:
1. Membaca Qulhuwallahu Ahad (Al-Ikhlas) 3x.
2. Selawat kepada para Nabi (Allahumma Shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad wa Alal Anbiya-i wal Mursalin).
3. Mendoakan kaum Muslimin (Astaghfirullah lil mukminina wal mukminat).
4. Kemudian membaca (Subhanallah, wa-Alhamdulillah wa Laa ilaa ha Illallah wa-Allahu Akbar).
Marilah kita mulai praktikkan dan ajarkan kepada anak-anak kita.
sumber

Minggu, 02 Agustus 2015

KULIAH ZIKIR DARI IMAM IBNU ATHA’ILLAH (4)

 Al-Jurairi menuturkan, “Salah seorang sahabat kami selalu mengucap Allah, Allah. Lalu pada suatu hari, kepalanya terkena batang pohon hingga pecah dan mengeluarkan darah. Dari darah itu kemudian tertulis di atas tanah kalimah Allah, Allah.”
Zikir laksana api yang bekerja secara aktif dan memberikan pengaruh. Ketika masuk ke dalam sebuah rumah zikir itu akan berucap, “Aku... tidak ada lagi selain DiriKu.” Itulah makna ungkapan La ilaha illa Allah. Jika di dalam rumah itu bertemu dengan kayu bakar, zikir tersebut akan segera membakar. Jika rumah itu gelap, ia akan menjadi cahaya penerang.
Jika rumah itu memang memiliki cahaya, ia akan menjadi cahaya di atas cahaya.
Zikir berfungsi menghilangkan endapan berlebih dalam tubuh yang diakibatkan oleh makan berlebihan dan memakan barang haram. Saat endapan kotor itu terbakar sehingga hanya yang baiklah yang dapat bertahan, barulah ia boleh mendengar senandung zikir dari semua organ tubuhnya.
Suara zikir itu seperti tiupan terompet. Pertama-tama, ia jatuh di sekitar kepala sehingga kau akan mendengar suara seperti terompet. Zikir adalah penguasa, jika singgah di suatu tempat, ia akan singgah dengan membawa terompet itu. Sebab, zikir menghadang apa saja selain al-Haq.
Ketika menempati suatu tempat, ia akan sibuk melenyapkan segala sesuatu yang menjadi lawannya laksana air bertemu api. Lalu, akan terdengar berbagai macam suara seperti desir air, deru angin, golakan api, derap kuda, dan suara dedaunan tertiup angin. Sebab, struktur tubuh manusia terdiri dari unsur mulia dan hina. Unsur yang hina meliputi tanah, air, api, udara, bumi dan langit, serta segala yang berada di antara keduanya. Jadi, semua suara itu berasal dari seluruh unsur asli di atas. Ketika suara itu terdengar, bererti ia sedang bertasbih dan mensucikan Allah dengan lisannya. Itulah hasil dari zikir lisan yang terbaik.
---Ibnu Atha’illah dalam Miftah al-Falah wa Misbah al-Arwah
sumber

Kamis, 30 Juli 2015

DIANTARA SYIRIK DAN ZUHUD

 Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan:
“Jauhilah sifat syirik, baik syirik lahiriah ataupun batiniah. Sifat syirik lahiriah seperti menyembah patung atau berhala, sementara syirik batiniah seperti bersandar kepada makhluk dan hanya memerhatikan kepadanya, baik dalam kemudharatan ataupun dalam manfaat.
Di antara manusia ada orang yang memiliki dunia, tetapi dia tidak mencintainya; dia memiliki dunia tetapi tidak dimiliki dunia; dunia mencintainya tetapi dia tidak mencintai dunia; dunia lari di belakangnya, tetapi dia tidak lari ke belakang mengejarnya; dia memanfaatkan dunia tetapi dunia tidak berhasil memanfaatkannya; dan dia berhasil memisahkan diri dari dunia, tetapi dunia tidak memisahkan diri darinya.
Dia benar-benar telah membuat hatinya menjadi baik kerana Allah Azza wa Jalla, sedangkan dunia tak mampu merosaknya. Maka, dia mampu mengatur dunia, sementara dunia tak akan mampu mengaturnya. Kerana itu, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik harta yang bermanfaat adalah harta orang yang soleh.” Beliau juga bersabda, “Tidak ada kebaikan dalam dunia ini, kecuali bagi orang yang berkata begini dan begitu.” Beliau mengisyaratkan bahawa orang itu memisahkan dunia dengan tangannya dalam berbagai segi yang baik.
Maka, hendaklah engkau membiarkan dunia di tanganmu untuk kebaikan hamba-hamba Allah Azza wa Jalla. Keluarkanlah dunia dari hatimu hingga dunia sama sekali tidak membahayakanmu. Janganlah kenikmatan dunia dan perhiasannya menipumu. Sebab, tidak lama lagi engkau akan pergi dan dunia pun akan pergi setelah kepergianmu.”
--Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Fath Ar-Rabbani
sumber

Selasa, 28 Juli 2015

TEKNIK SOLAT KHUSYUK DAN TAWAJJUH

Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani pada penutup Surah Al-Fatihah dalam Tafsir Al-Jailani mengatakan: “Wahai para pengikut Muhammad yang selalu menuju pengesaan Zat, semoga Allah memudahkan urusanmu, hendaklah engkau merenungkan tujuh samudera yang meliputi tujuh ayat yang diulang-ulang dalam Al-Qur`an Al-Azhim yang merupakan cabang dari tujuh sifat Dzat Ilahi yang setara dengan tujuh lapis langit dan tujuh bintang semesta.
Renungkanlah ayat-ayat ini dengan sungguh-sungguh, lalu jadikanlah dirimu seperti yang dilambangkan di dalamnya, niscaya engkau akan selamat dari tujuh jurang jahanam yang menghalangi manusia mencapai syurga Zat, yang menjadi tempat musnahnya semua atribute dan keberbilangan.
Tentu saja renungan dan tadabbur seperti itu tidaklah mudah bagi mu kecuali setelah engkau membersihkan lahiriahmu dengan syariat Rasulullah saw yang bersumber dari Al-Qur`an, serta membersihkan batiniahmu dengan mengikuti akhlak Rasulullah SAW yang berasal dari kandungan Al-Qur`an. Kerana Al-Qur`an yang menjadi penyatu kedua sisi akhlak Rasulullah saw, lahir dan batin; serta turun dari Rabb-nya yang telah menunjuknya sebagai khalifah di bumi.
Al-Qur`an adalah akhlak Allah swt yang diturunkan kepada Nabi-Nya. Maka siapapun yang berakhlak dengan Al-Qur`an, pasti akan beruntung seperti beruntungnya Rasulullah SAW. Itulah sebabnya Rasulullah bersabda: "Berakhlaklah kalian dengan akhlak Allah", kerana memang itulah yang diingatkan di dalam Al-Qur`an.
Surah al-Fatihah menjadi bahagian paling terpilih dari seluruh isi al-Qur`an dengan bentuk yang paling mudah dan pemaparan yang paling jelas. Siapapun yang merenungi surah ini pasti akan mendapatkan apa yang dapat didapatkannya dari seluruh isi Al-Qur`an. Itulah sebabnya surah ini wajib dibaca ketika hamba bertawajuh (memusatkan) kepada Zat Tunggal yang oleh syariat disebut dengan istilah "solâh".
Solat merupakan mi'raj bagi mereka yang menuju kepada-Nya, sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: "Solat adalah mi'raj orang mukmin." Rasulullah juga bersabda: "Tidak sah solat kecuali dengan membaca Fâtihah al-Kitâb."
Oleh sebab itu, maka bagi engkau yang sedang melakukan solat dengan menghadap ke arah Ka'bah yang sejati atau kiblat yang hakiki, hendaklah engkau melaksanakan solat wajib dengan tekun yang dapat mendekatkan anda kepada kiblat hakiki, sehingga engkau dapat meraih hikmah dan rahsia-rahsia yang terkandung di penetapan kewajiban solat oleh syariat. Kerana jika engkau ingin mendekatinya atau menghadap ke pintu kiblat hakiki itu, engkau harus terlebih dulu berwudhu dan menyucikan diri dari segala kotoran baik yang lahir maupun yang batin.
Kemudian engkau harus membersihkan dirimu dari segala bentuk syahwat, sehingga engkau akan dapat memulai takbiratul ihram tanpa waswas syaitan yang membaca dengan hawa nafsu yang menyesatkan. Ketika Anda melafazkan takbiratul ihram, ingatlah bahawa engkau telah mengharamkan terhadap dirimu segala kehidupan dunia yang engkau miliki:
Bacaan "Allahu Akbar" harus engkau perhatikan maknanya. Yaitu bahawa Dia adalah Zat Maha Agung Maha Besar di dalam Zat-Nya yang tidak dinisbahkan kepada yang selain Dia, kerana mereka tidak ada yang selain Dia.
Lakukan ini sebagai karaktermu, bukan untuk mencari keutamaan. Jadikanlah ia sebagai pusat dari konsentrasimu dan inti dari semua tujuan yang engkau inginkan.
Ketika engkau melafazkan "Bismillâh" demi mencari anugerah dan berkat, maka gerakkanlah hasrat dan mahabbah (cinta) engkau hanya kepada Allah.
Ketika engkau melafazkan "Ar-Rahmân", engkau sedang menghirupnya dari nafas kasih sayang Allah yang akan membantu engkau untuk naik ke sisi-Nya.
Ketika engkau mengucapkan "Ar-Rahîm", engkau merasa nyaman dengan hembusan kelembutan rahmat-Nya. Engkau datang dengan maqam memohon kelembutan Allah SWT sembari menghitung nikmat yang sudah Dia berikan kepada Anda.
Ketika engkau bersyukur atas nikmat Allah dengan merapalkan "Al-Hamdulillâh", engkau telah bertawasul kepada-Nya dengan bersyukur atas nikmat-Nya.
Ketika engkau melafazkan "Rabb al-'âlamîn", engkau mengakui sepenuhnya atas kecakupan, dan keliputan-Nya terhadap seluruh semesta.
Ketika engkau melafazkan "Ar-Rahmân", engkau memohon keluasan rahmat Allah dan keumuman kasih sayang-Nya. Ketika engkau merapalkan "Ar-Rahîm", engkau selamat dari azab yang pedih berupa sikap berpaling kepada yang selain Allah yang Maha Benar. Engkau telah sampai kepada-Nya setelah sebelumnya terpindah dari-Nya. Bahkan engkau telah berhubunganya dengan-Nya.
Ketika engkau melafazkan "Mâliki yaum ad-dîn", engkau telah memutuskan hubungan dengan segala sebab asbâb secara mutlak dan engkau teguhkan maqam kasyf (penyingkapan) dan syuhûd (kesaksian). Ketika tampak kepada engkau sesuatu yang tampak bagi engkau, maka di maqam itu engkau boleh berkata dengan segenap jiwa-raga: "Iyyâka na'budu", hanya kepada-Mu kami menyembah; "wa iyyâka nasta'în", hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.
Ketika engkau melafazkan "ihdina-sh-shirâth al-mustaqîm", engkau telah meneguhkan maqam ubudiyyah (penghambaan).
Ketika anda melafazkan "shirath al-ladzîna an'amta 'alaihim", engkau telah meneguhkan maqam al-jami' (penyatuan).
Ketika engkau melafazkan "ghair al-maghdhûb 'alaihim", engkau telah menyatakan takut dari kekuatan kekuasaan sifat-sifat Allah yang agung.
Ketika anda melafazkan "walâ adh-dhâllîn", anda menyatakan takut mundur lagi setelah sampai di tujuan.
Ketika engkau melafazkan "âmîn", engkau telah aman dari syaitan yang terkutuk.
Hendaklah engkau solat dengan cara seperti yang disebutkan di atas, agar shalat engkau dapat menjadi mi'raj ke puncak Zat Tunggal dan tangga menuju Langit Keabadian; serta dapat menjadi kunci bagi khazanah azali yang abadi.
Semua itu tentu tidaklah mudah kecuali setelah engkau mampu mematikan keinginan engkau dari berbagai bentuk tuntutan sifat-sifat kemanusiaan (keakuanmu) dan berakhlak dengan akhlak yang diredhai serta sifat terpuji.
Kecenderungan hati seperti ini tidak akan pernah engkau raih kecuali setelah engkau melakukan uzlah melarikan diri dari orang-orang yang tenggelam dalam kealpaan serta memutuskan diri dari mereka dan dari gangguan berikut adat-kebiasaan mereka yang buruk. Kalau itu tidak dapat engkau lakukan, maka tabiat manusia selalu ingin mencuri, penyakit selalu menyerang, dan nafsu selalu mendorong ke arah keburukan serta jauh dari sang Maula.
Semoga Allah melindungi kita dari kejahatan nafsu serta menyelamatkan kita dari tipu-dayanya melalui anugerah-Nya.”
--Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani dalam Tafsir Al-Jailani.
sumber

Rabu, 22 Juli 2015

IKHLASKAN IBADATMU

IKHLASKAN IBADATMU DENGAN TAWAJUH (MEMUSATKAN) HATIMU HANYA KEPADA ALLAH...HINDARI YANG SELAIN ALLAH
Suatu ketika dimusim Haji, seorang sufi Abu Bashir sedang berdiri dekat Ka’bah seraya menjuruskan pandangannya kepada orang ramai yang sedang bertawaf, dia tertegun kerana begitu banyaknya orang yang mengerjakan tawaf sehingga kedengaran suara gemuruh takbir, tahmid, tasbih serta do’a, lalu terlintas dalam benaknya tentulah mereka itu mendapat keampunan di sisi Allah s.w.t.
Sejurus kemudian datanglah Imam Ja’afar As Sadiq seorang imam besar keturunan Rasulullah s.a.w dan dia mengetahui apa yang terlintas di dalam benak anak muridnya itu lantas berkata kepada Abu Bashir; "Pejamkanlah matamu wahai Abu Bashir...!"
Dengan rasa kebingungan yang mendalam akhirnya Abu Bashir menuruti dan patuh keatas apa yang diperintahkan oleh gurunya itu. Kemudian Imam Ja’far Sadiq mengusap wajah Abu Bashir dan berkata; Sekarang bukalah matamu wahai Abu Bashir dan lihat kembali kepada orang ramai yang sedang bertawaf itu...
Setelah Abu Bashir membuka matanya, alangkah terperanjat dia tiada terkira kerana sekarang apa yang dilihatnya hanyalah sekumpulan orang-orang yang berkepala binatang sedang melakukan tawaf, diantara mereka ada yang menyalak, mengaum, mengembik dan mengerang.
Sambil diliputi rasa hairan, kebingungan dan gerun ketakutan dia kemudian bertanya kepada gurunya; Apa yang sebenarnya yang terjadi ini wahai guruku...?
Maka Imam Ja’far Sadiq menjelaskan; Pada kali pertama yang engkau lihat itu adalah sifat wujud jasadiyah luaran mereka sahaja yang sedang bertawaf, dan pada kali kedua yang engkau lihat adalah hakikat sifat batin dalaman wujud rohaniyah mereka.
Lalu Abu Bashir bertanya lagi; Kenapa boleh terjadi hal yang demikian wahai guru? Pada hal mereka sedang berhaji, dan kelihatan mereka itu sedang bertakbir, bertahmid dan bertasbih mengagungkan Allah s.w.t
Dan dijawab oleh Imam Ja’afar Shaddiq; Apa yang mereka ucapkan dilidah mereka tidak sungguh-sungguh keluar dari lisan hati bathin mereka kerana tidak bersesuaian dengan apa yang terlintas di dalam hati bathin mereka. Apa yang mereka usahakan tidak pernah ditujukan ikhlas kepada Allah s.w.t tapi keduniaan yang mereka tuju. Mereka masih lagi mengingati yang lain selain Allah sw.t hatta ketika ibadah merekapun... kerana kenyataannya mereka masih lagi sibuk dengan perlakuan haji mereka, dengan amal mereka, dengan zikir mereka, dengan wujud mereka, dengan ilmu-keilmuan mereka, dengan harta kekayaan mereka, dengan kesombongan diri mereka... padahal Allah s.w.t Maha
Mengetahui apa yang terlintas didalam diri kita baik zahir mahupun batin. Tidak satu saatpun mereka bersama dengan Allah ketika ibadat mereka... dan merasa diri mereka wujud independent... berdiri sendiri... bebas beribadat dan beramal tanpa kebergantungan hanya kepada Allah... ikhlas merasa semuanya yang dinikmati adalah dari Allah.. dengan Allah.. untuk dan kerana... benar-benar menjadi hamba hakiki... mazhar Allah yang tak berupaya.
Oleh sebab itu luruskan ikhlas niatmu kerana Allah dan Rasul-Nya dan pasrah berserah dirimu untuk diaturkan dan disifati oleh Allah sw.t dengan segala ketentuan-Nya, kerana itu adalah awal serta akhir dari segala perjalanan ibadah seseorang hamba... dengan hati batin sentiasa mengharap tajalli Jamal-Nya dan dihindari dari tajalli Jalal-Nya... sebagaimana yg dipohon didalam Surah Al Fatihah.
Dan sesuatu yang dilihat pada zahir itu belum tentu kebenarannya, jangan ta’ajub dengan sifat zahir sesuatu semata-mata, sedang lalai hak2 hakikat. Kita diperintah dengan perintah syariat dan hakikat, perintah ikhtiari dan ijbari.
Barangsiapa yang kebanyakan masanya hati mereka lalai (ghaflah) dari Allah, maka karat akan tertempa pada hatinya, dan karat tersebut mengikut kadar kelalaiannya. Kalau sekiranya hati berkarat maka gambaran-gambaran maklumat tidak akan terakam padanya bertepatan dengan realitinya yang sebenar, maka ia akan melihat kebatilan sebagai benar dan kebenaran sebagai kebatilan…. Apabila karat terakam pada hati, maka ia menjadi hitam lalu terdinding, lantas rosaklah perspektifnya (tasawwur) dan pengetahuannya (idrak), maka ia sukar dan sering tidak menerima kebenaran dan tidak menolak kebatilan. Ini merupakan sebesar-besar hukuman bagi hati (a‘zami ‘uqubat al-qalbi). Puncanya adalah kerana kelalaian dari Allah dan mengikut hawa nafsu, maka kedua-duanya memadamkan cahaya hati dan membutakan pandangannya. Kerana nafsu sentiasa memandang wajah-wajah selain Allah.
Semoga kita tidak meletakkan martabat rohani kita seperti binatang... yang hanya tahu makan, minum, berkelahi dan berhubungan jenis semata... didunia ini. Pergilah kepada Tuhanmu dengan hati yang merendah diri lagi hina....
Semoga bermanafaat
sumber

Jumat, 10 Juli 2015

DIA YANG INGIN KU LIHAT... YANG INGIN KU RASAI HADIR-NYA

DIA YANG INGIN KU LIHAT... YANG INGIN KU RASAI HADIR-NYA
DIA yang kita ingin lihat di syurga akhirat nanti adalah DIA yang ada di bumi ini juga. Justeru itu mengapakah kita harus menunggu begitu lama untuk melihat DIA?
Kata-Nya, "AKU selalu bersamamu bila kau mengingati-Ku. Bila kau mengingati-Ku di dalam dirimu, maka AKU akan mengingatimu di dalam Diri-Ku. Jika kau mengingati-Ku di tempat yang ramai, nescaya AKU jua mengingatimu di majlis-Ku yang lebih besar dan terbaik. Jika kau mendekati-Ku jarak sejengkal, maka AKU akan mendekatimu sehasta. Bila kau datang pada-Ku dengan berjalan, maka AKU akan datang padamu dengan berlari."
Seorang Sufi yang hanya melihat DIA dengan matabatinnya, tidak lagi melihat apa-apa yang lain selain DIA didunia lagi. Jika DIA sudah cukup bagimu, sudah begitu hampir dalam kemesraan dakapan cinta-Nya, masakan perlu pada doa yang panjang dan dengan suara yang kuat? Biarlah hanya airmata yang berbicara dengan-Nya di tempat yang paling terendah, damai dan hening iaitu SUJUD.
AKU adalah dekat... lebih dekat dari urat lehermu... firman Nya... dan aku dapat rasai kedekatan itu... seumpama dapat kurasai hadirnya Ruh meliputi jasadku... Allah... Allah.. Allah...
sumber

HADIS QUDSI UNTUK KEDAMAIAN HATI

 Allah SWT berfirman, "Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Aku, tiada sekutu bagi-Ku dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.
Barangsiapa yang tak rela dengan ketentuan-Ku, tidak sabar terhadap ujian-Ku, tidak mensyukuri nikmat-Ku, dan tidak puas dengan pemberian-Ku, maka hendaknya ia menyembah tuhan selain-Ku.
Barangsiapa yang sedih terhadap kehidupan dunianya, seolah-olah dia sedang murka kepada-Ku. Siapa yang mengeluh atas suatu musibah, bererti ia telah mengeluhkan kepada-Ku.
Siapa yang mendatangi orang kaya, lalu dia merendahkan diri kerana kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga agamanya.
Siapa yang memukul wajahnya kerana kematian seseorang, seolah-olah ia telah mengambil tembok untuk memerangi-Ku. Siapa yang mematahkan kayu di atas kubur, seolah-olah ia telah menghancurkah Ka'bah-Ku dengan tangannya.
Siapa yang tak peduli dari mana ia mendapat makanan, maka Allah juga tak peduli dari pintu mana ia akan dimasukkan ke neraka Jahanam.
Siapa yang tak bertambah agamanya, bererti ia merugi. Sedangkan orang yang merugi, mati adalah lebih baik baginya.
Barangsiapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan mewariskan untuknya ilmu yang tidak ia ketahui. Serta siapa yang panjang angan-angan, maka amalnya tidak akan ikhlas."
--Imam Al-Ghazali dalam Kimiya As-Sa'adah
sumber

BIMBINGLAH KAMI KEPADA CAHAYAMU DENGAN CAHAYAMU YA ALLAH, YA NUR

 Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani mengatakan: “Ketika kalbu bertindak sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi., maka ia menjadi dekat kepada Rabb-nya. Dan, ketika ia telah dekat, maka ia akan memperoleh pengetahuan. Lalu kelak, kalbu dapat membezakan mana yang benar-benar menjadi milik-Nya dan apa yang dituntut darinya; apa yang menjadi milik Allah dan apa yang menjadi milik selain-Nya; apa yang termasuk kebenaran (haqq) dan apa yang termasuk kebatilan. Sebab, seorang Mukmin dianugerahi cahaya yang dengannya dia dapat melihat, demikian pula halnya dengan sang penjuang kebenaran yang dekat dengan Allah (ash-shiddîq al-muqarrab).
Orang Mukmin memiliki cahaya yang dengannya dia boleh melihat, dan itulah sebabnya Nabi SAW memperingatkan kita agar berhati-hati terhadap firasat orang Mukmin. Beliau bersabda, “Berhati-hatilah terhadap firasat seorang Mukmin, sebab dia melihat dengan cahaya Allah.”
Orang yang ʽarîf dan dekat (kepada Allah) juga diberi cahaya yang dengannya dia dapat melihat betapa dekatnya Tuhannya yang Maha Kuasa dengan kalbunya. Dia dapat melihat ruh-ruh (arwâh), para malaikat dan para nabi, dapat melihat kalbu dan ruh-ruh para pejuang kebenaran (shiddîqîn).
Dia boleh melihat keadaan-keadaan spiritual (ahwâl) dan kedudukan-kedudukan (maqâmat). Semua ini berada dalam lipatan-lipatan terdalam kalbunya (suwaidâ’ qalbihi) dan kejernihan wujud terdalamnya (sirr). Dia selalu berada dalam kebahagiaan bersama Rabb-nya Yang Maha Kuasa dan Maha Agung. Dia adalah perantara, yang menerima dari-Nya dan membahagi-bahagikan kepada manusia.
Ada orang-orang yang berilmu (ʽâlim) dengan lidah maupun kalbunya, sementara sebahagian orang berilmu dalam kalbunya saja, tetapi kekok dengan lidahnya. Mengenai orang munafik, dia pandai dengan lidahnya, namun tidak sesuai dengan kalbunya. Semua ilmunya hanya pada lidahnya saja, dan itulah sebabnya Nabi SAW bersabda, “Apa yang paling kutakutkan atas umatku adalah seorang munafik dengan lidah yang pandai.”
Wahai anak muda! Apabila engkau datang ke hadapanku, engkau harus membungkus kegiatan peribadimu dan keperdulian-keperdulianmu yang egois. Engkau harus masuk tanpa membawa apa-apa, seperti seorang yang sama sekali bangkrup (muflis). Jika engkau datang ke sini sementara engkau masih memikirkan pekerjaanmu dan kepentinganmu, engkau akan terhalang dari menerima petunjuk yang kusampaikan. Rugilah engkau! Engkau membenciku kerana aku mengatakan kebenaran dan menghadapkanmu pada kebenaran. Tak seorang pun yang membenciku kecuali musuh Allah, dan tak seorang pun mengabaikan aku kecuali dia jahil terhadap Allah, suka banyak bicara dan sedikit beramal. Tak seorang pun mencintaiku kecuali dia sedar akan Allah, banyak beramal dan sedikit bicara.
Orang yang tulus (mukhlis) akan mencintaiku dan orang yang munafik akan membenciku. Aku dicintai para pengikut Sunnah Nabi SAW dan aku dibenci oleh kaum yang lebih suka mengikuti bidʽah. Jika engkau mencintaiku, manfaat dari semua ini akan datang kepadamu. Tetapi, jika engkau membenciku, maka kesannya kepadamu akan merosak. Aku tidak terjerat oleh pujian dan celaan sesama makhluk. Tidak ada satu spesies apa pun di muka bumi yang kutakuti atau yang kepadanya kutanamkan harapan-harapanku, baik ia itu salah satu dari bangsa jin atau bangsa manusia, baik binatang ataupun serangga ataupun jenis makhluk yang lain. Aku tidak takut kepada siapa pun kecuali Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung. Semakin banyak Dia menganugerahiku anugerah-Nya yang penuh berkah, semakin besar rasa takutku, sebab Dia: “Melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (QS Hûd (11) :107). “Dia tidak akan ditanyai tentang apa yang diperbuat-Nya, tetapi merekalah yang akan ditanyai,” (QS Al-Anbiyâ ( 21) :23)
Wahai anak muda! Janganlah hanya fokus pada mencuci pakaian jasadmu saja, sementara pakaian kalbumu kotor. Engkau berada dalam keadaan kotor. Engkau harus mencuci kalbu terlebih dahulu, kemudian baru mencuci pakaianmu yang biasa. Engkau harus melaksanakan kedua tindak pencucian itu. Cucilah pakaianmu dari kotoran, dan cucilah kalbumu dari dosa-dosa!
Engkau tidak boleh membiarkan dirimu silau oleh apa pun, sebab Tuhanmu “melakukan apa yang dikehendaki-Nya” (QS 11:107). Itulah sebabnya diceritakan sebuah kisah tentang seorang soleh, bagaimana suatu ketika dia mengunjungi saudaranya seiman kepada Allah. “Wahai saudaraku,” katanya kepada saudaranya itu. “Marilah kita menangis atas pengetahuan Allah tentang kita!”
Alangkah bagusnya ucapan orang saleh ini! Dia adalah orang yang memiliki pengenalan (‘ârîf) tentang Allah dan telah mendengat kata-kata Nabi SAW: “Salah seorang di antara kalian mungkin beramal dengan amalan ahli syurga, sampai tak ada jarak antara dia dan syurga itu kecuali satu jengkal saja, kemudian kemalangan menimpanya dan dia menjadi salah seorang penghuni neraka, sampai tak ada jarak antara dia dan neraka kecuali satu jengkal saja, kemudian keberuntungan mengenainya dan dia menjadi salah seorang penghuni syurga.”
Pengetahuan Allah tentang dirimu hanya akan tampak kepadamu manakala engkau berpaling lagi kepada-Nya dengan segenap hati dan aspirasimu, manakala engkau tidak pernah menjauhi pintu rahmat-Nya, manakala engkau memasang penghalang dari besi antara hatimu dan nafsu badaniahmu, dan manakala engkau menjadikan maut dan kuburan sebagai titik pusat perhatian bagi mata kepala dan mata hatimu.”
--Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Jala Al-Khathir
sumber

Senin, 06 Juli 2015

HADIS QUDSI UNTUK KEDAMAIAN HATI

HADIS QUDSI UNTUK KEDAMAIAN HATI
Allah SWT berfirman, "Aku bersaksi bahawa tiada Tuhan selain Aku, tiada sekutu bagi-Ku dan Muhammad adalah hamba dan utusan-Ku.
Barangsiapa yang tak rela dengan ketentuan-Ku, tidak sabar terhadap ujian-Ku, tidak mensyukuri nikmat-Ku, dan tidak puas dengan pemberian-Ku, maka hendaknya ia menyembah tuhan selain-Ku.
Barangsiapa yang sedih terhadap kehidupan dunianya, seolah-olah dia sedang murka kepada-Ku. Siapa yang mengeluh atas suatu musibah, bererti ia telah mengeluhkan kepada-Ku.
Siapa yang mendatangi orang kaya, lalu dia merendahkan diri kerana kekayaannya, maka hilanglah dua pertiga agamanya.
Siapa yang memukul wajahnya kerana kematian seseorang, seolah-olah ia telah mengambil tembok untuk memerangi-Ku. Siapa yang mematahkan kayu di atas kubur, seolah-olah ia telah menghancurkah Ka'bah-Ku dengan tangannya.
Siapa yang tak peduli dari mana ia mendapat makanan, maka Allah juga tak peduli dari pintu mana ia akan dimasukkan ke neraka Jahanam.
Siapa yang tak bertambah agamanya, bererti ia merugi. Sedangkan orang yang merugi, mati adalah lebih baik baginya.
Barangsiapa yang mengamalkan apa yang dia ketahui, maka Allah akan mewariskan untuknya ilmu yang tidak ia ketahui. Serta siapa yang panjang angan-angan, maka amalnya tidak akan ikhlas."
--Imam Al-Ghazali dalam Kimiya As-Sa'adah
SILA SHARE DAN SEBARKAN
sumber