HOME | CARI ARTIKEL DI SINI

Tampilkan postingan dengan label Ahmad Novel Jindan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahmad Novel Jindan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 15 Agustus 2015

Kebiasaan Rasulullah SAW Berkhalwat dalam Gua Hira Bagian 2

Kebiasaan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Berkhalwat dalam Gua Hira Bagian 2
Setelah iman, jalan menuju kecintaan kepada Allah Swt. adalah dengan melakukan perenungan terhadap berbagai nikmat Allah, menghayati keagungan dan kebesaran-Nya, dan memperbanyak zikir, baik dengan hati maupun lisan. Semua itu akan menjadi sempurna jika dilakukan dengan beruzlah atau berkhalwat, yaitu dengan beberapa saat menjauhi segala kesibukan dan gemerlap kehidupan dunia
Kalau saja perenungan seperti itu benar-benar dilakukan seorang niscaya kecintaan yang mendalam terhadap Allah Swt. akan bersemi dalam hatinya. Kecintaan itu akan membuatnya melihat persoalan besar sebagai hal kecil, juga tidak mengindahkan hal-hal yang memalingkan hatinya dari Allah Swt. Selain itu, siksaan sesama manusia dianggapnya tidak seberapa, apalagi sekadar penghinaan dan cercaan. Sifat luhur seperti inilah yang seharusnya dimiliki setiap dai yang menyeru manusia ke jalan Allah Swt. Sifat luhur seperti inilah yang dahulu Allah anugerahkan kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam selaku pemimpin dakwah Islam.
Hal ini dapat terjadi karena semua gerakan hati, seperti rasa takut (khauf), cinta (mahabbah), dan harap (raja' ), memiliki pola kerja yang sama sekali berbeda dengan pola kerja akal. Tidaklah keliru bilamana Imam Al-Syathibi rahimahullah membedakan antara gerakan hati seorang muslim dari kalangan awam—dengan tanggung jawab keagamaannya bersumber dari pemahaman Islam yang "dangkal"—dengan kalangan khusus (elit), yang biasanya melakukan tanggung jawab keagamaan atas dasar dorongan olah pikir, rasionalitas, dan pemahaman. Berikut pernyataan Al-Syathibi.
"Kelompok pertama (awam) adalah mereka yang menjalankan ajaran Islam dan menerapkan keimanan yang tidak bertambah. Adapun kelompok kedua (khusus) adalah mereka yang menjalankan ajaran Islam atas dasar rasa takut (khauf), harap (raja ), atau cinta (mahabbah). Jadi, bagi kelompok ini, rasa takut (khauf) seakan-akan menjadi cambuk sais pedati, harap (raja') menjadi sang sais, dan cinta (mahabbah) menjadi pedatinya. Seseorang yang memiliki rasa takut (khauf) akan beramal ketika muncul kesulitan. Rasa takut itu sendiri merupakan salah satu perkara yang paling berat untuk dihadapi dengan kesabaran (shabr). Seseorang yang memiliki rasa harap (raja') juga akan beramal ketika muncul kesulitan. Kemudian, rasa harap (raja' ) yang muncul pada ketenangan yang sempurna akan mampu memikul kesabaran. Seseorang yang memiliki rasa cinta (muhibb) akan beramal untuk menyingkirkan kesulitan demi kerinduannya kepada yang dicintai (mahbub) sehingga bagi dia, segala bentuk kesulitan menjadi mudah dan segala yang jauh terasa dekat. Apa pun yang ia lakukan hanyalah untuk memenuhi janji cintanya. Oleh karena itu, is akan selalu mensyukuri nikmat yang diterima.
Sebagaimana dinyatakan jumhur ulama dan sejumlah pakar, upaya untuk menempuh berbagai wasilah demi mengejawantahkan semua gerakan hati ini kemudian dikenal dengan istilah Tasawuf. Namun, ada pula ulama lain yang menyebutnya dengan istilah ihsan. Adapun Imam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan beberapa ulama lain lebih suka menggunakan istilah ilm suluk.
Nah, kebiasaan berkhalwat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam sebelum diangkat menjadi rasul merupakan salah satu cara untuk mengaktualisasikan semua gerak hati beliau.
Namun, perlu diingat, yang dimaksud dengan "khalwat" di sini sama sekali bukanlah seperti yang dimaksud orang-orang sesat, yaitu meninggalkan semua yang berbau kehidupan dunia, seperti memilih tinggal di gua, hutan, atau gunung-gunung. Sikap menjauhi kehidupan dunia seperti itu jelas bertentangan dengan petunjuk Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam dan teladan para sahabat. "Cinta khalwat" sebenarnya dimaksudkan untuk menjadi "perenungan" sebagai obat berbagai kerusakan batin, sebagaimana telah kami kemukakan. Sebagaimana kita ketahui, "obat" hanya boleh dikonsumsi sesuai dosis. Jika berlebihan, is akan berubah menjadi racun bagi tubuh. Bahkan, kalaupun Anda menemukan riwayat hidup beberapa orang saleh yang hidup menyendiri jauh dari masyarakatnya, itu harus dianggap sebagai pengecualian, tidak boleh digeneralisasikan.
sumber

Selasa, 11 Agustus 2015

teraweh 20 rakaat

Sayyidina Umar bin Al Khottob dan para sahabat sepakat bahwa teraweh 20 rakaat
4 madzhab sepakat bahwa teraweh 20 Rakaat
Masjidil haram terawehnya 20 rakaat
Masjid Nabawi terawehnya 20 rakaat
Masjidil Aqsho terawehnya 20 Rakaat

Orang zaman sekarang yang berbeda dengan kesepakatan kaum muslimin ini APA? DAN SIAPA?
MENGAPA MENGGANGGU YANG INGIN MENGHARAP PAHALA BANYAK DENGAN 20 RAKAAT?
Masjid hanya boleh 8 rakaat dan 3 witir kemudian yang solat 20 teraweh DILARANG? Dengan hak apa melarang? Oh, saya ketua dan pengurus masjid.
Ketahuilah bahwa Masjid bukan kontrakan yang seenaknya dihak milikkan oleh ketua dan pengurus. Namun masjid yang diurus adalah milik Allah yang diamanatkan kepadanya untuk mengelolanya dan menfasilitasi serta memberi kemudahan kepada siapapun yang ingin beribadah dan menyembah Allah di dalamnya.
Semoga Allah memberi hidayah kepada kita semua.
sumber

Sabtu, 08 Agustus 2015

15. JIN DAN MANUSIA

Pertanyaan:
Apakah jin bisa dilihat oleh manusia?
jawab:
Jin dalam bentuk aslinya tidak dapat dilihat oleh manusia. Manusia hanya dapat melihat jelmaannya saja. Misalnya, jin mengubah bentuk menjadi keledai, ular, anjing atau menyeru­pai manusia. Jin dapat juga menyerang manusia. Wujud seperti itu bisa dilihat. Kalau jin mengubah bentuk seperti itu, manusia bisa memukul, menembak sampai dia mati. Jika jelmaannya mati, jinnya benar-benar mati Kalau tidak, dia akan enak saja merajalela, menakut-nakuti manusia sehingga berantakan di­buatnya. Jin tahu, mengubah bentuk itu akan membahayakan dirinya, karenanya ia tidak berani sembarangan mengganggu manusia
Ini adalah rahmat Allah bagi manusia agar jin tidak berani menampakkan diri kepada manusia dengan mengubah bentuk aslinya.
Firman Allah:
.....إنه يركم هو وقبيله من حيث لا ترنهم إنا جعلنا الشيطين إولياء للذين لايؤمنون.27.
"...Sesungguhnya ia (jin) dan pengikut-pengikutnya melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihatnya. Se­sungguhnya kami telah jadikan setan-setan itu sebagai pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman. ""(al-A'raaf: 27)
Jin dapat membantu manusia dalam perbuatan sihir, misal­nya mengganggu suami agar tidak lagi tertarik kepada istrinya walaupun cantik. Istrinya yang cantik ditinggal dan pindah ke­pada wanita lain yang jelek. Hadits Rasulullah Shalallahu alahi wa aalihi wa shahbihi wa salam.,
suatu ketika jin menampakkan diri di hadapanku, hampir saja aku menangkapnya dan akan aku ikat dia pada tiang masjid agai anak-anak Madinah menontonnya."
Sabdanya lagi:
"Tiap-tiap orang didampingi setan. Setan itu selalu akan menggodanya Tetapi aku telah dibantu Allah hingga setan yang mendampingiku masuk Islam.'
Dalam Shahih Bukhari diterangkan. Abu Hurairah r.a. me­nangkap jin ketika dia mencuri kurma yang disediakan untuk sedekah. Jin takut menghadapi manusia yang tabah dan was­pada, tetapi manusia penakut justru akan digoda dan ditakut-takuti.
Bila seorang mengucap. "Auzubiltahiminasyatannirrajim" (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terku­tuk). Mendengar itu. ia akan lari tunggang-langgang.
Apabila manusia menunjukkan sikap takut kepada setan apalagi memuja-mujanya. ia akan menjadi lebih sombong.
Firman-Nya,
"Beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta per­lindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, mereka men­jadikan jin bertambah sombong" (al-Jin: 6)
Makhluk jin macam-macam. Ada yang beriman, ada yang kafir. Ada yang saleh dan tidak. Ada yang lurus dan menyim­pang. Ada yang menolong manusia dan banyak yang mengajak jahat Semua itu sebagai hikmah.
Dunia ini dicipta Allah untuk dihuni manusia dan jin. Jin lebih senang tinggal di hutan, semak-belukar, rumah kosong, pantai-pantai, bahkan di rumah yang ditinggali manusia.
Sumber: Anda Bertanya Islam Menjawab Karya Prof. Dr. M. Mutawalli asy-Sya’rawi
sumber