HOME | CARI ARTIKEL DI SINI

Jumat, 22 Juli 2016

KERUGIAN ORANG BAKHIL/PELIT/KIKIR MENURUT ABU BAKAR ra

Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra. Berkata :
orang2 yg Bakhil itu tidak lepas dari salah satu d antara 7 Perkara berikut :
1.Tatkala Meninggal, Hartanya diwarisi oleh org yg akan Menghabiskannya dan Membelanjakannya untuk sesuatu yg Tidak di Perintahkan ALLAH SWT.
2.ALLAH SWT Akan Menurukan Penguasa Dzalim yg akan Merampas Seluruh Harta orang Bakhil itu dan Sebelumnya Penguasa Tersebut akan Membuat Orang Bakhil itu Terhina.
3.Dia akan dikuasai Syahwat yg Akan Menghancurkan Hartanya.
4.Akan Muncul ide dalam Benaknya untuk Mendirikan bangunan2 diwilayah2 yg Rawan Bencana, yg pada Saatnya akan Runtuh dan Menguras Habis Hartanya.
5.Dia akan ditimpa Salah Satu dari Musibah Dunia Seperti Tenggelam, Kebakaran atau Kecurian.
6.Dia Akan ditimpa PENYAKIT Kronis hingga dia Menghabiskan Hartanya untuk Mengobati Penyakitnya.
7.Dia Akan Memendam hartanya disuatu Tempat lalu Lupa dan Tidak dapat Menemukan nya Kembali.
قال أبوبكر الصديق رضي الله عنه : البخيل لا يخلو من إحدى سبع،
إما أن يموت فيرثه من يبذل ماله وينفقه لغير ما أمر الله تعالى،
أو يسلط الله عليه سلطانا جائرا فيأخذه منه بعد تذليل نفسه،
أو يهيّج له شهوة تفسد عليه ماله،
أو يبدو له رأي في بناء
أو عمارة في أرض خراب فيذهب فيه ماله،
أو يصيب له نكبة من نكبات الدنيا من غرق أو حرق أو سرقة أو ما أشبه ذلك،
أو تصيبه علة دائمة فينفق ماله في مداواتها،
أو يدفنه في موضع من المواضع فينساه فلا يجده
(Kitab Nashoihul Ibad – Asy Syeikh Nawawi bin Umar Al Banteny)
Semoga Bermanfaat.

Minggu, 05 Juni 2016

Doa Sulthonul Aulia Sayyidi Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani QS menyambut bulan Ramadhan

Kitab Al Ghunyah li Tholibi Thoriq Al Haq-
Ikhwan-akhwat sekalian insyaAllah sebentar lagi kita akan memasuki bulan Ramadhan. Berikut ini Doa Sulthonul Aulia Sayyidi Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani QS dalam menyambut bulan Ramadhan  :


اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الصِّيَامِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقِيَامِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاِيْمَانِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْقُرْأَنِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلاَنْوَارِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمَغْفِرَةِ وَالْغُفْرَانِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الدَّرَجَاتِ وَالنَّجَاتِ مِنَ الدَّرَكَاتِ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ التَّائِبِيْنَ الْعَابِدِيْنَ. اَلسَّلاََمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْعَارِفِيْنَ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ الْمُجْتَهِدِيْنَ. اَلسَّلاَمُ عَلَيْكِ يَا شَهْرَ اْلأَمَانِ. كُنْتِ لِلْعَاصِيْنَ حَبْسًا وَلِلْمُتَّقِيْنَ اُنْسًا. اَلسَّلاَمُ عَلَى اْلقَنَادِيْلِ وَالْمَصَابِيْحِ الزَّاهِرَةِ. وَالْعُيُوْنِ السَّاهِرَةِ. وَالدُّمُوْعِ الْهَاطِلَةِ. وَالْمَحَارِيْبِ الْمُتَعَطِّرَةِ. وَاْلعَبَرَاتِ الْمُنْسَكِبَةِ الْمُتَفَطِّرَةِ. وَاْلاَنْفَاسِ الصَّاعِدَةِ مِنَ الْقُلُوْبِ الْمُحْتَقِرَةِ.
اَللَّهُمَّ اجْعَلْنَا مِمَّنْ قَبِلْتَ صِيَامَهُمْ وَصَلاَتَهُمْ وَبَدَّلْتَ سَيِّئاَتِهِ بِحَسَنَاتِهِ. وَاَدْخَلْتَهُ بِرَحْمَتِكَ فِى جَنَّاتِكَ. وَرَفَعْتَ دَرَجَاتِهِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الراَّحِمِيْنَ.

(Artinya)
“Salam bagimu wahai bulan Romadhon. Salam bagimu wahai bulan qiyam (buntuk mendirikan shalat tarawih dan qiyamullail). Salam bagimu wahai bulan iman. Salam bagimu wahai bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an. Salam bagimu wahai bulan yang penuh cahaya. Salam bagimu wahai bulan yang penuh ampunan. Salam bagimu wahai bulan (untuk meningkatkan) derajat dan keselamatan dari derajat yang rendah. Salam bagimu wahai bulan bagi orang-orang yang bertaubat dan ahli ibadah. Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang ma’rifat. Salam bagimu wahai bulan milik orang-orang yang bersungguh-sungguh. Salam bagimu wahai bulan yang aman. Engkau adalah penjara bagi orang-orang yang melakukan maksiat dan kesenangan bagi orang-orang yang bertakwa. Salam bagi pelita yang bersinar, mata-mata yang terjaga, airmata yang terus menetes, mihrab-mihrab yang semerbak harum, airmata yang tumpah, dan nafas-nafas yang naik dari hati yang hina. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang Engkau terima puasa dan shalatnya, yang Engkau ganti keburukannya dengan kebaikan, yang Engkau masukkan ke dalam surga-Mu dengan rahmat-Mu, dan yang Engkau angkat derajatnya dengan rahmat-Mu, wahai Dzat Yang Maha Pengasih.”



Sebaiknya doa ini dibaca pada Malam Tanggal 1 Ramadhan (dan seterusnya.red)

(Sumber : dari 
Kitab Al Ghunyah li Tholibi Thoriq Al Haq karya Sulthonul Aulia Sayyidi Syaikh Abdul Qodir Al Jaelani QS. )

sumber

Selasa, 19 April 2016

ALLAH MENOLONG ORANG YANG JUJUR DAN MENEPATI JANJI

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu meriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil meminta kepada seseorang Bani Israil lainnya agar memberikan pinjaman kepadanya seribu dinar. Lalu si pemberi pinjaman berkata, “Datangkanlah para saksi. Saya meminta mereka untuk bersaksi.”
Lantas orang yang meminta pinjaman berkata, “Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menjadi saksi.”
Pemberi pinjaman menambahkan, “Datangkanlah seorang penjamin,.”
Dia menjawab, “Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penjamin.”
Pemberi pinjaman berkata, “Engkau benar.”
Kemudian dia menyerahkan piutang tersebut kepadanya sampai waktu yang ditentukan.
Selanjutnya si peminjam pergi mengarungi lautan untuk memenuhi kebutuhannya. Setelah itu, dia mencari kendaraan yang akan digunakan untuk mendatangi pemberi pinjaman sesuai waktu yang telah ditetapkan. Ternyata dia tidak menemukan kendaraan. Lantas dia mengambil kayu dan melubanginya, lalu dia memasukkan seribu dinar di dalamnya dan selembar kertas darinya untuk temannya (si pemberi pinjaman). Kemudian dia meratakan tempatnya kembali.
Selanjutnya dia membawa kayu tersebut ke laut. Dia berkata, “Ya Allah! Sungguh, Engkau mengetahui bahwa saya meminjam seribu dinar kepada si fulan, lalu dia meminta penjamin kepadaku dan saya berkata, ‘Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai penjamin.’ Dia pun ridha karena Engkau. Dia juga meminta saksi, lalu saya berkata, ‘Cukuplah Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadi saksi.’ Dia pun ridha karena Engkau. Sesungguhnya saya telah bersusah payah untuk menemukan kendaraan untuk mengantarkan utangku kepada pemiliknya, ternyata saya tidak menemukan. Sungguh, saya menitipkan kayu ini kepada-Mu.”
Lantas dia melemparkannya ke laut sampai masuk ke dalam laut kemudian bergerak. Di samping itu dia masih saja mencari kendaraan untuk menuju ke daerahnya.
Di lain pihak, si pemberi pinjaman menanti-nanti barangkali kendaraan yang membawa piutangnya telah datang. Ternyata ada kayu yang mengapung di dekatnya. Lalu dia mengambil kayu tersebut untuk dijadikan sebagai kayu bakar buat keluarganya. Ketika dia menggergajinya, dia menemukan uang dan selembar kertas. Kemudian si peminjam hutang datang dan memberikan seribu dinar, lalu dia berkata, “Demi Allah, saya telah bersusah payah mencari kendaraan untuk menyerahkan piutangmu. Ternyata saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”
Setelah beberapa waktu kemudian, teman yang meminjam uang darinya telah sampai. Dia bertanya, “Apakah engkau pernah mengirimkan sesuatu kepadaku?”
Dia menjawab, “Saya kan sudah bilang bahwa saya tidak menemukan kendaraan sebelum saya datang sekarang ini.”
Dia berkata, “Allah telah mengantarkan darimu sesuatu yang engkau kirimkan melalui kayu dan mengalir dengan membawa seribu dinar.”
(HR. Al-Bukhari).

Senin, 18 April 2016

CINTA RABIAH AL-ADAWIYAH KEPADA ALLOH

Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, “Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun meleblhl gunung-gunung. Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?” “Tidak,” jawab Rabiah dengan suara sangar. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, “Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya.
Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. Tetapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?” “Pasti,” jawab Rabiah dengan tegas. Lalu ia menjelaskan, “Kalau Tuhan tldak berkenan menerlma tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti darl dosa, jangan simpan kata “akan atau “andaikata” sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu.”
Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, “Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?” Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada disamping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.
Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pundari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismaill pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan . Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.
Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan. siapa-siapa . “Ya Allah,” seru Ismail, “anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya.” Lalu Ismail menggumam, “Amin.” Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tldak punya apa-apa Kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dlrinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan Kehidupan.
Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, “Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya.
Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismall diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.
Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, “Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu ger- bang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapl, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu.”
Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Taz-kiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk menekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.
Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isa, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, “Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu.”
Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, “Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu.”
Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, “Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.
Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: “Apakah engkau akan menikah kelak?” Rabiah mengelak, “Pernikahan merupakan keharusan bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah.” “Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?” “Karena telah kuberikan seluruh hidupku,” ujar Rabiah. “Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?” Dengan tulus Rabiah menjawab, “Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.”
sumber

Sabtu, 09 April 2016

Apa faedahnya kita menghadiri majelis haul ?

Maka jawabnya, banyak faedahnya. Pada ghalib (yang nyata)-nya, acara yang dilakukan di dalam majelis haul adalah:
1. Membaca DzikruLlah secara beramai-ramai, seperti biasanya ketika haul Imam Syaikh Abu Bakar bin Salim akan dibacakan Wirdul Sughra, Wirdul kubro Syaikh Abu Bakar bin Salim dan Maulid Adh-Dhiyaul Lami' susunan Al-Habib 'Umar ibn Muhammad ibn hafizh
2. Membaca Yasin atau mengkhatam al-Quran dan pahalanya dihadiahkan kepada shohibul haul.
3. Membaca manaqib shohibul haul,
4. Dapat duduk bersama ulama dan mendengar nasihat dan peringatan daripada mereka5. Membaca petikan dari kitab-kitab karangan shohibul haul, dan banyak lagiiii ........
1. BerdzikruLlah.Kelebihan berdzikruLlah ini sangat banyak.
Bacalah di dalam kitab Fadhilat Dzikir oleh Syeikhkul Hadits Maulana Zakaria al-Kandahlawi. Di dalam kitab tersebut ada dijelaskan lebih dari 70 faedah atau keutamaan dari berdzikir. Di sini kami sampaikan sedikit diantara mengenai fadhilat keutamaannya dan juga menjadi dalil berdzikir secara bersama-sama (jama’ah).
Di antaranya:إذا مررتم برياض الجنة فارتعوا. قيل: وما رياض الجنة يارسول الله؟ قال: حلق الذكرArtinya: “Apabila kalian melalui suatu taman syurga, maka hendaklah kalian berhenti”. Mereka bertanya: “Apakah taman syurga itu, wahai Rasulullah? Baginda صلى الله عليه وآله وسلم menjawab: Halaqah (kumpulan) dzikir” (Hadits riwayat at-Tirmidhi)
Sabda Rasulullah صلى الله عليه وآله وسلملا يقعد قوم يذكوون الله تعالى إلا حفتهم الملا ئكة، وغشيتهم الرحمة، ونزلت عليهم السكينة، وذكرهم الله فيمن عندهArtinya: “Tidaklah suatu kaum duduk berdzikir kepada Allah Ta’ala, melainkan mereka akan dikelilingi oleh para malaikat dan akan dilimpahi rahmat serta akan diturunkan ke atas mereka ketenangan dan Allah akan menyebut mereka di hadapan para malaikatNya" (Hadits riwayat Muslim)
أن النبي خرج على حلقة من أصحابه فقال: ما يجلسكم؟ قالوا: جلسنا نذكر اللهَ ونحمده. فقال: إنه أتاني جبريل، فأخبرني أنّ الله يباهي بكم الملائكةArtinya: “Bahwa suatu ketika Nabi صلى الله عليه وآله وسلم keluar dan melalui suatu halaqah dari para shahabatnya. Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda: Apakah yang menyebabkan kalian duduk beramai-ramai? Para shahabat رضي الله عنهم menjawab: Kami berdzikir serta memuji Allah. Maka Baginda صلى الله عليه وآله وسلم bersabda: Sesungguhnya Jibril عليه السلام telah datang kepadaku dan mengkhabarkan kepadaku bahwasanya Allah Ta’ala membanggakan kalian di hadapan para malaikatNya (Hadits riwayat Muslim)
مامن قوم اجتمعوا يذكرون الله لا يريدون بذلك إلا وجه تعالى إلا ناداهم مناد من السماء: قوموا مغفورا لكم، قد بدلت سيئاتكم حسناتArtinya: “Tidaklah suatu kaum yang berkumpul untuk berdzikir kepada Allah Ta’ala, (yang mana mereka) tidak menginginkan sesuatu kecuali keredhaanNya, melainkan ada suara yang menyeru mereka dari langit: Berdirilah kalian dalam keadaan diampunkan kesalahan kalian, sesungguhnya keburukan yang kalian lakukan telah digantikan dengan kebaikan. (Hadits riwayat Ahmad, ath-Thabarani dan Abu Ya’la)
Keutamaan majelis zikir• Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu:Dari Nabi Shallallahu alaihi wassalam, Beliau bersabda: Sesungguhnya Allah Yang Maha Memberkahi lagi Maha Tinggi memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan yang jumlahnya melebihi malaikat pencatat amal, mereka senantiasa mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka mendapati satu majelis zikir, maka mereka akan ikut duduk bersama mereka dan mengelilingi dengan sayap-sayapnya hingga memenuhi jarak antara mereka dengan langit dunia. Apabila para peserta majelis telah berpencar mereka naik menuju ke langit. Beliau melanjutkan: Lalu Allah Yang Maha Mulia lagi Maha Agung menanyakan mereka padahal Dia lebih mengetahui daripada mereka: Dari manakah kamu sekalian? Mereka menjawab: Kami datang dari tempat hamba-hamba-Mu di dunia yang sedang mensucikan, mengagungkan, membesarkan, memuji dan memohon kepada Engkau. Allah bertanya lagi: Apa yang mereka mohonkan
kepada Aku? Para malaikat itu menjawab: Mereka memohon surga-Mu. Allah bertanya lagi:
Apakah mereka sudah pernah melihat surga-Ku? Para malaikat itu menjawab: Belum wahai Tuhan kami. Allah berfirman: Apalagi jika mereka telah melihat surga-Ku? Para malaikat itu berkata lagi: Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu. Allah bertanya: Dari apakah mereka memohon perlindungan-Ku? Para malaikat menjawab: Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami. Allah bertanya: Apakah mereka sudah pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat menjawab: Belum. Allah berfirman: Apalagi seandainya mereka pernah melihat neraka-Ku? Para malaikat itu melanjutkan: Dan mereka juga memohon ampunan dari-Mu. Beliau bersabda kemudian Allah berfirman: Aku sudah mengampuni mereka dan sudah memberikan apa yang mereka minta dan Aku juga telah memberikan perlindungan kepada mereka dari apa yang mereka takutkan. Beliau melanjutkan lagi lalu para malaikat itu berkata: Wahai Tuhan kami! Di antara mereka terdapat si Fulan yaitu seorang yang penuh dosa yang kebetulan lewat lalu duduk ikut berzikir bersama mereka. Beliau berkata lalu Allah menjawab : Aku juga telah mengampuninya karena mereka adalah kaum yang tidak akan sengsara/merugi orang yang ikut duduk bersama mereka. (Shahih Muslim No.4854)
Anjuran untuk ingat (berzikir) kepada Allah Taala•
Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam. bersabda: Allah Taala berfirman: Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku selalu bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam dirinya, maka Aku pun akan mengingatnya dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu jemaah manusia, maka Aku pun akan mengingatnya dalam suatu kumpulan makhluk yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati-Ku sehasta, maka Aku akan mendekatinya sedepa. Dan apabila dia datang kepada-Ku dengan berjalan, maka Aku akan datang kepadanya dengan berlari. (Shahih Muslim No.4832)
Cukuplah sekadar beberapa hadits untuk menyatakan kelebihan berdzikiruLlah.
2. Mendoakan shohibul haul, bacaan tahlil atau surah yasin atau mengkhatam al-Quran yang mana pahalanya dihadiahkan kepada shohibul haul.
Mengenai menghadiahkan bacaan tahlil, bacaan al-Quran ke mayyit, maka, disisi pendapat jumhur ulama ahlus sunnah wal jamaah, perbuatan ini dianjurkan dan sampai pahala yang dihadiahkan kepada orang yang telah mati. Persoalan ini sudah sering dibahaskan. Maka kami rasa tidak perlu lagi untuk diperjelaskan.
Hanya ingin mengungkapkan sedikit perkataan ulama tentang perkara tersebut, sebagaimana di dalam terjemahan Ajwibah al-Ghaliyyah karya Habib Zein bin Sumaith: “Tersebut Di dalam kitab al-Majmu’ syarah al-Muhazzab oleh Imam an-Nawawi (15/522): “Berkata Ibn Nahwi di dalam Syarah al-Minhaj: Di dalam mazhab Syafi’i, menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tetapi menurut qaul yang mukhtar, sampai pahala apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan tersebut”.Dalam menanggapi qaul yang masyhur tersebut, maka Syaikhul Islam, Syaikh Zakaria al-Anshari mengatakan di dalam kitabnya Fathul Wahhab (2/19):
وماقاله من مشهور المذهب محمول على ماإذا قرأ لا بحضرة الميت ولم ينو ثواب قرائته لهArtinya: Apa yang dikatakan sebagai qaul masyhur di dalam mazhab Syafi’i itu dalam pengertian: Jika al-Quran itu dibaca dengan tiada kehadiran orang mati (tidak dibaca di hadapan orang mati) dan tidak meniatkan pahala bacaan itu bagi orang mati.”Maka jika dibaca dengan di niatkan sebagai pahala, Insya Allah layaknya sebuah doa, pasti Allah mengabulkannya.
3. Membaca Manaqib
Perkataan manaqib itu adalah bentuk jamak dari mufrod manqobah, yang di antara artinya adalah cerita kebaikan amal dan akhlak perangai terpuji seseorang. Jadi membaca manaqib, artinya membaca cerita kebaikan amal dan akhlak terpujinya seseorang. Oleh sebab itu kata-kata manaqib hanya khusus bagi orang-orang baik dan mulia. Maka hukumnya juga harus bahkan dianjurkan, kerana manaqib menceritakan teladan yang baik untuk diikuti. Apa faedahnya membaca manaqib dan memperingati orang-orang sholeh?
Maka faedahnya membaca manaqib dan mengingati orang-orang sholeh adalah sepertimana yang tersebut di dalam sebuah hadits riwayat ad-Dailami didalam Musnad al-Firdaus daripada Sayyidina Muadz رضي الله عنهذكر الأنبياء من العبادة وذكر الصالحين كفارة وذكر الموت صدقة وذكر القبر يقربكم من الجنةMaksudnya: Mengingati para Nabi adalah ibadah, mengingati orang-orang sholeh adalah kaffarah (bagi dosa), mengingati mati adalah sedekah dan mengingati qubur mendekatkan kalian semua kepada syurga. (menurut Imam asy-Sayuthi didalam al-Jami’ asy-Shoghir dan al-Munawi didalam Faidhul Qadir)
Muhammad bin Yunus رحمه الله تعالى berkata:ما رأيت أنفع للقلب من ذكر الصالحينArtinya: Tiada melihat aku akan sesuatu yang terlebih manfaat bagi hati daripada mengingati riwayat hidup orang-orang sholeh.
Sufyan bin Uyainah رحمه الله تعالى mengatakanعند ذكر الصالحين تنزل الرحمةArtinya: Tatkala menyebut orang-orang sholeh akan bercucuran rahmat.
Imam Junaid al-Baghdadi رحمه الله تعالى pula berkata: Hikayat (kisah orang-orang sholeh) itu adalah merupakan tentera dari tentera-tentera Allah Ta’ala dimana Allah menetapkan hati para auliyaNya dengan kisah-kisah tersebut. Maka ditanyai oleh orang kepada Imam Junaid: Apakah engkau mempunyai asas menyokong katamu itu? Maka beliau menjawab: Dalil atau landasan hukum bagi kenyataannya itu adalah firman Allah [bermaksud]: Dan semua kisah-kisah Rasul-rasul itu, kami ceritakan kepadamu (wahai Muhammad), yang dengannya Kami teguhkan hatimu. (Surah Hud:120).
Imam Abu Hanifah.rhm berkata: Kisah-kisah para ulama dan kebaikan-kebaikan mereka lebih aku sukai daripada banyaknya (masalah) fiqih, kerana kisah-kisah tersebut mengandungi adab-adab dan akhlaq mereka.
Waallahu'alam Bishowab...

MENGENAL RASULULLAH SAW MELALUI CINTA KEPADA AHLUL BAITNYA

Segala puji bagi Allah SWT Pencipta manusia yang bersuku-suku dan berkelompok-kelompok. Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, seorang yang paling dimuliakan kelompok dan golongannya, leluhurnya dan keturunan setelahnya. Semoga tercurahkan juga kepada keluarganya, para sahabatnya, dan pengikutnya hingga kelak nanti.
Allah SWT menciptakan manusia beraneka ragam, dan menjadikannya bergolongan-golongan dan berkabilah-kabilah, tidak lain tujuannya agar saling mengenal satu dengan yang lainnya. Diantara golongan tersebut ada yang dijadikan oleh Allah lebih mulia daripada golongan yang lain. Dan hal itu merupakan fadl ikhtisos (keistimewaan khusus) yang Allah anugerahkan kepada hamba yang dipilih-Nya.
Sebagaimana Allah telah menjadikan semua masjid di dunia ini sama di dalam keutamaan dan kemuliaannya, akan tetapi Allah memberi keutamaan lebih kepada Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsa dan Masjid Nabawi. Begitu pula Allah menjadikan semua nasab dan keturunan manusia di dunia ini sama di dalam derajatnya, akan tetapi Allah melebihkan derajat dan keutamaan kepada nasab Ahlul Bait yang bersambung kepada Baginda Muhammad SAW. Hal ini bukan menunjukkan ketidak adilan Allah dengan membedakan satu golongan terhadap golongan yang lain, namun inilah letak keadilan Allah yang telah menempatkan sesuatu sesuai dengan tempatnya.
Dan sesuatu yang bergandeng namanya dengan sesuatu yang mulia pasti akan menjadi mulia. Bukankah Masjid Nabawi yang bergandeng namanya dengan Nabi Muhammad SAW menjadi mulia karena Nabi? Begitu pula nasab keturunan beliau menjadi mulia sebab beliau SAW. Allah SWT berfirman :
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَى آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِين
“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam dan Nuh dan keluarga Ibrahim dan keluarga Imran dari segenap umat manusia”[1]
Jika Allah telah memilih keluarga Ibrahim dan keluarga Imran diantara segenap manusia apakah Allah tidak akan memilih keluarga Nabi Muhammad SAW sedangkan beliau adalah sebaik-baik Nabi dan Rasul ?[2]
Para ulama telah sepakat bahwa Ahlul Bait Rasulullah adalah mereka keturunan dari Sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, keturunan Sayyidina Abbas bin Abdul Mutthalib, keturunan Sayyidina 'Aqil bin Abi Thalib dan keturunan Sayyidina Jakfar bin Abi Thalib. Merekalah yang dimaksud oleh Allah SWT dalam Al-Quran[3] :
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا
“Sesungguhnya Allah ingin menghilangkan kotoran (kotoran yang bersifat maknawi seperti syirik dan kejekan) dari kalian wahai para Ahlul Bait dan mensucikan kalian sesuci-sucinya”[4]
Rasul SAW telah mewasiatkan kepada umatnya perihal Ahlul Bait. Beliau tinggalkan 2 perkara yang dengan keduanya Umat Muhammad tidak akan tersesat selama-lamanya, beliau SAW bersabda :
أَمَّا بَعْدُ أَلاَ أَيُّـهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوْشِكُ أَنْ يَأْتِيَ رَسُوْلَ رَبِّيْ فَأَجِيْبُ وَأَنَا تَارِكٌ فِيْكُمْ ثَقَلَيْنِ أَوَّلُهُمَا كِتَاُب اللهِ فِيْهِ الْهُدَى وَالنُّوْرُ فَخُذُوْا بِكِتَابِ اللهِ وَاسْتَمْسَكُوْا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابَ اللهِ وَرَغِّبْ فِيْهِ ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِيْ أُذَكِّرُكُمُ اللهَ فِي أَهْلِ بَيْتِيْ
“Adapun setelahnya.., ketahuilah wahai manusia sesungguhnya aku hanya seorang manusia yang diberi risalah oleh Tuhanku kemudian aku menyampaikannya. Dan aku tinggalkan untuk kalian 2 perkara yang agung : yang pertama adalah Kitab Allah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya, maka ambillah Kitab Allah (Al-Quran) dan berpegang teguhlah kalian dengannya; dan (yang kedua) Ahlul Baitku, Aku ingatkan kalian kepada Allah terhadap Ahlul Baitku, Aku ingatkan kalian kepada Allah terhadap Ahlul Baitku, Aku ingatkan kalian kepada Allah terhadap Ahlul Baitku”[5]
Beliau SAW menjadikan kecintaan terhadap Ahlul Bait sebagai tangga mencapai kecintaan kepada beliau. Banyak hadist-hadits yang menganjurkan agar Umat Muhammad mencintai Ahlul Bait, hal ini tidak lain karena mulianya Baginda Muhammad SAW dan keturunannya, beliau bersabda :
أَحِبُّوْا للهَ لمِاَ يَغْدُوْكُمْ بِهِ مِنْ نِعَمِهِ وَ أَحِبُّوْانِيْ بِحُبِّ اللهِ وَ أَحِبُّوْا أَهْلَ بَيْتِيْ بِحُبِّيْ
“Cintailah Allah sebagaimana ia telah memberikan nikmat kepada kalian, dan cintailah aku (Rasulullah) karena kecintaan kalian kepada Allah, dan cintailah Ahlul Baitku karena kecintaan kalian kepadaku”[6]
Apabila seseorang cinta kepada orang lain, pasti sesuatu yg dicintai orang tersebut akan mencintainya juga. Seperti para sahabat baginda Muhammad, mereka menggapai kecintaan Nabi dengan teguhnya keimanan dan besarnya kecintaan mereka kepada keluarga Nabi. Coba lihat bagaimana Sayyidina Abu bakar As-Shiddiq menyeru kepada umat ini :
ارْقُبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَهْلِ بَيْتِه
“Jagalah, hormatilah dan muliakanlah Ahlul Bait (keluarga) Rasulullah SAW” [7]
Maka lihatlah bagaimana orang-orang dahulu cinta kepada Ahlul Bait. Mereka mengorbankan semuanya untuk meraih kecintaan kepada para keturunan Rasulullah SAW, hingga mereka mendapatkan anugerah dari Allah sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasul-Nya. Cukuplah perkataan seorang ulama yang berkata :
فَازَ كَــلْبٌ بِحُبِّ أَصْحَابِ كَهْفٍ # فَكَيْفَ أَشْقَى بِحُبِّ آلِ مُحَــمَّدِ
“Seekor Anjing menjadi beruntung karena cinta kepada Ashabul Kahfi #
Bagaimana mungkin seseorang akan celaka dengan mencintai keluarga Muhammad SAW”
Dikisahkan bahwa dahulu seorang ulama yang bernama Syekh Muhammad bin Abu Bakar Abbad ketika ada seorang keturunan Rasul yang masuk ke Kota Syibam di Negeri Yaman, meski beliau tidak mengetahui kedatangannya dan tidak mendengar kedatangannya, beliau berkata kepada pembantunya : “Lihatlah kalian di Kota ini, apakah ada seorang dari Bani 'Alawi (Keturunan Rasulullah yang lebih dikenal dengan sebutan Sayid atau Habib) yang masuk ke dalam Kota ini beberapa hari kemarin?”. Apabila ada, maka beliau akan membantunya dan memenuhi kebutuhannya. Ketika beliau ditanya : “Dari mana engkau mengetahui hal itu wahai syekh?” Beliau menjawab : “Sungguh aku mencium bau harum Rasulullah SAW masuk ke dalam kota ini”.[8]
Itulah keutamaan yang Allah berikan kepada orang yang bersungguh-sungguh mencintai keluarga Nabi. Tidak akan pernah celaka orang yang mencintai keturunan beliau. Sebab hakekat cinta tersebut untuk meraih cinta Rasul SAW. Dan dengan kecintaan kepada beliau akan mendatangkan cinta dari Allah SWT
Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita kecintaan hakiki kepada keluarga Nabi hingga membuahkan cinta dari Nabi Muhammad kepada kita. Amin..
[1] Q.S. Al-Baqarah : 33
[2] Az-Zahrah Al-Athirah fi Hadits Al-‘Ithrah, hal : 82
[3] Sirah Alu Bait An-Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam Ahbab Ar-Rasul, hal : 12
[4] Q.S. Al-Ahzab : 33
[5] Shahih Muslim, hadits : 2408, hal : 1312
[6] Tuhfah Al-Ahwadzi bisyarh Jami’ At-Tirmidzi, Juz 1, hal : 198
[7] Shahih Al-Bukhari, Juz 3, Hadits : 3713, hal : 579
[8] Dhuhur Al-Haqaiq, hal : 171
====Alwafa biahdillah====
©Pecinta Riyaadhul Jannah •5B240254
"CARA UNTUKMENDEKATI ALLAH SWT IALAH DENGAN MEMANDANG ORANG-ORANG SHOLEH DAN KITA DIPANDANG  OLEH MEREKA" (AL HABIB ABDULLAH BIN ALWI AL HADDAD)

5 malam mulia

Saudaraku, Jangan lupa malam ini adalah malam 1 Rajab, yang mana doa kita ,-Insya ALLAH- akan di ijabah oleh ALLAH SWT. RASULULLAH SAW bersabda,
" خَمْسُ لَيَالٍ لا تُرَدُّ فِيهِنَّ الدَّعْوَةُ : أَوَلُ لَيْلَةٍ مِنْ رَجَبٍ ، وَلَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ ، وَلَيْلَةُ الْجُمُعَةِ ، وَلَيْلَةُ الْفِطْرِ ، وَلَيْلَةُ النَّحْرِ "
Artinya: "Ada 5 malam yang (insya ALLAH) doa-doa tidak akan ditolak,,
1.Malam 1 Rajab
2.Malam nisfu Sya'ban
3.Malam Jumat
4.Malam Idul Fitri
5.Malam Idul Adha."
Bagaimanakah menyambut malam pertama Bulan Rajab?
عن أنس بن مالك قال: كان رسول الله صلى الله عليه وسلم إذا دخل رجب قال: «اللهم بارك لنا في رجب، وشعبان، وبلغنا رمضان»
Diriwayatkan daripada Sayyidina Anas bin Malik R.A beliau berkata: bahwasanya apabila telah masuk Bulan Rajab Rasulullah saw berdo'a : " Ya Allah limpahkanlah berkah kepada kami pada Bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah (panjangkan umur) kami ( untuk memasuki) Bulan Ramadhan "