HOME | CARI ARTIKEL DI SINI

Rabu, 11 November 2015

Kisah Dua Orang Yang Cinta Karena Allah Ta’ala

Sebagian ulama besar mengatakan bahwa ada 2 orang yang saling mencintai karena Allah, mereka bersepakat untuk saling membantu di dunia dalam mencapai ridha Allah, dan untuk menyebarkan ajaran Rasulullah shallallahu 'alihi wasallam, dan menampakkan akhlak rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama mereka dalam kehidupan dunia. Maka kedua orang shalih ini setuju untuk mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad dan menyebarkan ajaran beliau hingga mereka wafat, dan mereka berkesinambungan dalam hal itu, mereka saling membantu dalam menyebarkan dakwah nabi Muhammad, mereka mengajarkan sunnah-sunnah nabi Muhammad kepada manusia dengan kasih kelembutan dan kasih sayang dan akhlak yang mulia, dan mereka terus mengamalkan sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, yang mana hal itu adalah sunnah-sunnah yang sangat sederhana dan kita semua mengetahuinya, diantaranya sunnah ketika makan, ketika tidur, ketika keluar dan masuk rumah. Kita menganggapnya sesuatu yang kecil padahal hal itu sangat agung di sisi Allah.
Dan setelah beberapa tahun kedua orang ini mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka salah seorang diantara mereka meninggal. Maka orang ini selalu mendoakan temannya yang meninggal, dan memintakan ampunan kepada Allah untuknya. Dan suatu saat ia berjumpa dengan temannya di dalam mimpi, dan ia menanyakan keadaannya setelah meninggal, dan apa yang terjadi setelah ia wafat. Kita mengetahui bahwa mimpi-mimpi baik itu adalah benar dan datangnya dari Allah,dan sebagian mimpi yang lainnya adalah dari syaitan. Lihatlah pada indahnya tuntunan sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, maka berkatalah saudaranya yang meninggal itu:
"Ketika aku wafat dan berpindah dari kehidupan dunia ini, sungguh aku tidak merasakan kematian sama sekali, orang-orang memandikanku, mengkafaniku, dan membawaku ke dalam kubur, tetapi aku mengira diriku dalam mimpi, sehingga datang 2 malaikat ke dalam kuburku, dan berkata kepadaku : "duduklah wahai Abdullah", dan ketika aku duduk di kuburku aku merasa bahwa diriku baru bangun dari tidur, dan dahulu ketika aku masih hidup di dunia aku selalu menjaga 2 sunnah nabi yaitu ketika akan tidur dan ketika bangun tidur, yang pertama adalah sunnah siwak, ketika aku bangun tidur aku selalu mengambil siwak dan bersiwak dengannya, dan yang kedua adalah ketika aku bangun tidur aku selalu membaca doa:
الحمدلله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور
" Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami kembali, dan kepada-Nya lah kami akan kembali".
Adapun balasan dari sunnah yang pertama aku tidak merasakan sakitnya kematian bahkan aku mengira bahwa aku sedang dalam mimpi, sehingga malaikat berkata kepadaku: "duduklah wahai Abdullah" mereka ingin menanyakan aku di dalam kubur, dan ketika aku bangun dari kuburku aku mengira bahwa aku bangun dari tidur, dan aku mulai mencari siwak dan aku mengulang-ulang doa bangun tidur, dan ketika itu aku memanggil anakku dan aku berkata: "wahai fulan, dimana siwakku, siapa yang yang telah mengambil siwak?", maka malaikat yang berada di hadapanku berkata: "Wahai Abdullah, siwak apa yang engkau cari dan siapa yang orang yang engkau panggil itu?, apakah engkau mengira bahwa engkau sedang tidur di tempat tidurmu?, engkau sekarang adalah mayyit di dalam kuburmu, dan kami adalah malaikat yang akan bertanya kepadamu", maka aku menjadi risau dan aku sadar bahwa aku telah berada di alam kubur, dan aku pun mengulang-ulang doa bangun tidur, maka malaikat itu berkata: "engkau adalah hamba yang shalih, engkau telah dikuatkan dengan ucapan yang kuat, maka tiada lagi pertanyaan untukmu di kubur dan di hari kiamat, maka tidurlah seperti tidurnya pengantin sampai tiba hari kiamat".
Maka ia berkata kepada temannya di dalam mimpi, sungguh Allah subhanahu wata'ala telah menyelamatkanku dari pedihnya kematian, dan dari pertanyaan 2 malaikat di alam kubur dikarenakan aku mengamlakan dua sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang sangat mudah dan sederhana itu. Maka bagaimana jika kita mengamalkan 5 dari sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, dan bagaimana jika kita menjaga 10 sunnah dari sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Setiap sunnah Rasulullah yang engkau amalkan akan membawa manfaat untukmu, dan orang ini telah melewati 1 tahap yaitu selamat di alam kuburnya, ia akan selamat dari kubur kemudian mencapai ke surga, dan dari surga ia akan mencapai kepada puncak kenikmatan di surga yaitu memandang keindahan dzat Allah subhanahu wata'ala.
Demikianlah Allah subhanahu wata'ala memberi balasan kepada orang-orang yang beriman di dunia, karena mereka beriman kepada Allah subhanahu wata'ala walaupun mereka tidak melihat-Nya, dan mereka menyembah-Nya padahal mereka tidak melihat-Nya, dan mereka melakukan shalat karena Allah subhanahu wata'ala sedangkan mereka tidak melihat-Nya. Jika mereka telah sampai kepada ketetapan rahmat Allah, maka mereka akan melihat Allah subhanahu wata'ala, dan Allah akan menyingkirkan dari mereka tabir yang menghalangi mereka dengan Allah.
Wallahu`alam
Allahumma shalli alaa ruuhi sayyidina muhammadin fil arwah, wa 'ala Jasadihi filjasad, wa alaa Qabrihi filqubuur"
Artinya
(wahai Allah limpahkan shalawat pada Ruh Sayyidina Muhammad di alam arwah, dan limpahkan pula pada Jasadnya di alam Jasad, dan pada kuburnya di alam kubur
“Allahumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidina Muhammad nuuri-kas saari wa madaadikal jaari wajma’nii bihi fi kulli athwaari wa ‘ala alihi wa shahbihi yannuur”
dan jangan Lupa membaca Al-qur'an, jangan lewatkan seharipun tanpa membaca Al-qur'an jadikan bacaan yg paling anda senangi, berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Cinta Allah besar pada pecinta Alqur'an, dengan memahamainya atau tidak dg memahaminya
 
Sumber : Oleh : Adda`i Ilallah Sayyid Munzir Al Musawa rhm

sumber

Minggu, 08 November 2015

Sudahkah Hari Ini Kita Menyesal ?

Guru Mulia Al-Habib Umar bin Hafidz:
-- Sudahkah Hari Ini Kita Menyesal ? --
Sebaik-baiknya hal yang ada didalam hati kita pada saat Allah Subhanahu wa Ta'alasedang menatap hati dan batin kita adalah bagi Allah menemukan dalam hati kita penyesalan atas kesalahan dan dosa-dosa kita.
Dan sesungguhnya sebagaimana dalam hadist, orang mukmin dia memandang dosa yang dia lakukan, dosa pribadinya itu bagai gunung yang ada diatas kepalanya yang sewaktu-waktu bisa bisa menimpa dirinya dan membinasakannya. Adapun seorang munafik menganggap dosa yang dia lakukan itu bagaikan lalat yang hinggap dihidungnya yang bisa dia usir kapan waktu.
Wallahu a'lam
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala alihi washobihi wasalim

Sabtu, 31 Oktober 2015

Hadir Di Majelisnya Para Ulama’ Dapat Menghapus Dosa Sebesar Gunung Tihamah

Saudara-saudariku yang kukasihi, kita hidup disuatu masa dimana para ulama’ dijauhi, majelisnya diasingkan, betapa ramai ummat manusia menganggap tidak penting majelis ilmu dan ulama’, menganggap tidak penting mempelajari ilmu agama, lebih mementingkan diri untuk menyibukkan urusan dunia dan memayahkan diri untuknya. Ideologi hidupnya asal perut kenyang maka hidup bahagia. Akibat dari menjauhi ulama dan majelis ilmu akan melahirkan generasi yang tak bermoral, tak beretika, jauh dari ketaqwaan apalagi keimanan, padahal betapa penting majelis ilmu itu dalam membangun kualitas bangsa.

Berikut ini nasehat ulama’ Madinah, Al-faqih Al ‘Allamah Al ‘Arif Billah Al Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith Hafidzahullah ta’ala yang kami kutip dari kitab karangannya, “Manhajussawi Syarah Ushul Thariqah Assadah Aali Ba’alawi” , menuturkan perihal anjuran dan pentingnya majelis ilmu dan ulama bagi kehidupan ummat manusia. Ketahuilah, tanpa adanya peran ulama yang merupakan pemegang tongkat estafet pewaris para Nabi, maka kehidupan ummat manusia tak ubahnya dengan kehidupan binatang.

Inilah keutamaan majelis ilmu dan Ulama’ sesuai dengan hadist Nabi serta kalam para ulama salaf :

Ada riwayat dari Yahya bin Abi Katsir rahimahullah untuk kemudian beliau memberikan penafsiran atas firman Allah Subhanahu wa ta’ala,

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru kepada Tuhan-Nya di pagi hari dengan mengharap keridlaan-Nya” [QS. Al-Kahfi : 28]

Beliau berkata yang dimaksud ayat tersebut adalah bersama-sama majelis ilmu agama.

Ada juga hadist menjelaskan keutamaan majelis ilmu sebagaimana diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma.

ان رسول الله صلى الله عليه وسلم دخل المسجد فرأى مجلسين أحد المجلسين يدعون الله ويرغبون إليه و والاخر يتعلمون الفقه ويعلمون , فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم كلا المجلسين على خير, أحدهما أفضل من الآخر , وأما هؤلاء فيدعون الله ويرغبون إليه إن شاء أعطاهم الله وإن شاء منعهم . وأماهؤلاء فيتعلمون ويعلمون الجاهل , وإنما بعثت معلما وهؤلاء أفضل و فأتاهم حتى جلس معهم

Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memasuki masjid dan beliau melihat dua majelis. Salah satunya sedang Berdoa kepada Allah, dan lainnya sedang belajar dan mengajar. Kemudian beliau bersabda kepada mereka, “Keduanya sama-sama dalam kebaikan, namun salah satunya lebih utama daripada yang lain nya. mereka yang berdoa kepada Allah, jika Allah mengehendaki maka akan mengabulkannya dan jika Allah tidak menghendaki maka tidak akan mengabulkannya. Dan mereka yang sedang belajar dan mengajar orang-orang yang jahil, sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik, dan mereka inilah yang lebih utama”. Kemudian baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam mendatagi mereka dan ikut duduk bersama mereka.

Sebuah hadist yang telah diriwayatkan oleh Sayyidina Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, dari Baginda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, berliau bersabda ,

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوا قَالُوا وَمَا رِيَاضُ الْجَنَّةِ قَالَ حِلَقُ الذِّكْرِ

“Jika kamu melewati taman-taman surga, maka singgahlah dengan senang.” Para sahabat bertanya, ”Apakah taman-taman surga itu?”, beliau menjawab, ”Halaqah-halaqah/majelis dzikir.”

Dan diriwayatkan lagi dari Sayyidina Anas bin Malik radhiyallahu anhu, sebuah hadist marfu’,

قَالَ إِنَّ ِللهِ سَيَّارَةً مِنَ الْمَلاَئِكَةِ يَطْلُبُوْنَ حِلَقَ الذِّكْرِ فَإِذَا أَتَوْا عَلَيْهِمْ وَحَفُّوْا بِهِمْ

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling mencari kelompok-kelompok dzikir. Jika mereka telah mendatanginya maka mereka mengelilinginya.”

Dari Imam Atha’ Rahimahullah ta’ala , katanya, “kelompok-kelompok dzikir itu adalah majelis untuk mengetahui hukum halal dan haram, untuk mengetahui bagaimana cara membeli, untuk mengetahui bagaimana cara menjual, bagaimana cara melaksanakan shalat, bagaimana cara berpuasa, bagaimana cara melaksanakan haji, bagaimana cara menikah dan cara menjatuhkan talak, dan lain sebagainya.”

Dalam sebuah hadist lagi di sebutkan

عَنْ أَبِي وَاقِدٍ اللَّيْثِيِّ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صلّى الله عليه وسلّم بَيْنَمَا هُوَ جَالِسُ فِي الْمَسْجِدِ وَالنَّاسُ مَعَهُ إِذْ أَقْبَلَ ثَلاَثَةُ نَفَرِ , فَأَقْبَلَ اثْنَانِ إِلَى رَسُوْلِ الله صلّى الله عليه وسلّم وَذَهَبَ وَاحِدٌ , قَالَ : فَوَقَفَا عَلَى رَسُوْلِ الله صلّى الله عليه وسلّم فَأَمَّا أَحَدُهُمَا فَرَأَى فُرْجَةً فِي الْحَلْقَةِ فَجَلَسَ فِيْهَا , وَأَمَّا الآخَرُ فَجَلَسَ خَلْفَهُمْ , وَأَمَّا الثَّالِثُ فَأَدْبَرَ ذَاهَبَا . فَلَمَّا فَرَغَ رَسُوْلُ الله صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : ” أَلاَ أَخْبِرُكُمْ عَنِ الْنَّفَرِ الثَّلاَثَةِ ؟ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ الله , وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ , وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ ”

Dari Abu Waqid Al Laitsi bahwa ketika Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sedang duduk dalam majelis di Masjid, beliau dikelilingi oleh para sahabat, tiba-tiba datanglah tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah dan yang satunya lagi pergi. Kedua orang itu berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam. Salah seorang dari mereka melihat celah di sela majelis lalu dia duduk disitu. Dan satu lagi duduk di bagian belakang majelis. Sementara yang ketiga pergi meninggalkan majelis. Sesudah menyampaikan nasehat (ceramah) beliau bersabda, “Maukah kalian aku beritahukan tentang tiga orang tadi? Adapun orang yang pertama, ia mendekati Allah, maka Allah pun mendekatinya. Orang yang kedua, ia malu – malu, maka Allah pun malu terhadapnya. Adapun orang yang ketiga, ia berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.

Dari Umamah radhiyallahu anhu katanya, telah bersabda Baginda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam

إن لقمان الحكيم عليه السلام قال لابنه
يَا بُنَيَّ عَلَيْكَ بِمَجَالِسِ العُلَمَاءِ، وَاسْتَمِعْ كَلاَمَ الحُكَمَاءِ، فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى يُحْيِ القَلْبَ المَيِّتَ بِنُوْرِ الحِكْمَةِ كَماَ يُحْيِ الأَرْضَ المَيِّتَةَ بِوَابِلِ القَطْرِ

“Sesungguhnya Luqman al Hakim berkata kepada anaknya, “Duhai anakku, hendaknya engkau (menghadiri) majlis-majlis para ulama dan dengarkan baik-baik ucapan para ahli hikmah. Sebab Allah akan menghidupkan hati yang mati dengan cahaya hikmah sebagaimana Dia menghidupkan tanah yang mati dengan tetesan air hujan.

Berkata Sahl bin Abdillah At Tustari rahimahullah, ” Barangsiapa ingin melihat majelisnya para Nabi, hendaklah ia melihat majelisnya para ulama’, sebab ulama’ adalah pengganti para Rasul terhadap ummatnya, dan juga pewaris ilmunya. Maka bermajelis dengan para ulama’ adalah berarti bermajelis dengan pengganti para Nabi.

Dari ibnu mas’ud radhiyallahu anhu beliau berkata

المتقون سادة, والفقهاء قادة ,ومجالستهم زيادة

“Orang-orang yang bertaqwa itu adalah orang-orang yang mulia, dan para fuqahaa (ahli fiqh) para pembimbing umat. Adapun duduk bermajelis dengan mereka semua adalah keutamaan.”

Dari Sayyidina Abdullah ibnu Umar radhiyallahu anhuma, katanya,

مجلس فقه خير من عبادة ستين سنة

“Duduk bermejelis bersama orang ahli fiqh (ahli ilmu agama) adalah lebih baik daripada beribadah enam puluh tahun.”

Diriwayatkan dari Sayyidina Umar ibnu Khattab radhiyallah anhu, beliau berkata:

إن الرجل ليخرج من منزله وعليه من الذنوب مثل جبال تهامة, فإذا سمع العالم خاف واسترجع عن ذنوبه وانصرف إلى منزله وما عليه ذنوب, فلا تفارقوا مجالس العلماء فإن الله عز وجل لم يخلق على وجه الأرض رتبة أعز عليه من مجالس الذكر

“Sesungguhnya seorang laki-laki yang keluar dari rumahnya dengan setumpukdosa seberat gunung Tihamah, kemudian dia mendengarkan nasehat orang alim sehingga timbul rasa takut [dalam dirinya] dan timbul upaya untuk keluar dari dosa-dosa [yang disandang]nya sampai kemudian dia pulang, maka baginya tidak ada lagi dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian menjauhi majelis ulama’, karena Allah Subhanahu wa ta’ala tidak menciptakan lagi di permukaan bumi ini derajat lain yang lebih mulia dibandingkan dengan derajat majelis dzikir. (keterangan ini disebutkan di dalam kitab ihya’).”

Berkata Ka’ab Al Ahbar rahimahullah ta’ala .

وَقَالَ كَعَبْ اْلاَحبَارْ رَضِيَ الله ُ عَنْهُ لَوْاَنَّ ثَوَابَ مَجْلِسِ الْعُلَمَاءِ بَدَا لِلنَّاسِ لاَقْتَتَلُوْا عَلَيْهِ حَتَّى يَتْرُكَ كُلُّ ذِىْ اِمَارَة امَرَته وكُلُّ ذِىْ سُوْق سُوْقَه

“Andaikata pahalanya seseorang yang berada di majelis ulama’ diketahui oleh manusia, niscaya manusia itu akan berebut sehingga meninggalkan pekerjaannya (bagi yang pekerja) dan pedagang akan meninggalkan dagangannya.”

Berkata Imam ‘Atha’ Rahimahullah.

مجلس علم يكفر سبعين مجلسا من مجالس اللهو

Majelis ilmu itu dapat melebur kesalahan dari 70 majelis permainan yang tidak berfaedah.

Berkata Tuanku Al Imam Ahmad bin Hasan Al ‘Attas radhiyallahu anhu , 

“Majelis dakwah kepada Allah dan majelis dzikir orang-orang sholih adalah merupakan sabun pencuci bagi hati dan siraman air bagi hati. Adapun hati yang sudah berkarat maka dibutuhkan sabun pencuci, sedangkan hati yang masih hidup maka cukup disiram dengan air niscaya semakin bertambah hidup.”

Selanjutnya beliau radhiyallahu anhu berkata :

ما يعقد مجلس علم أو ذكر الله إلا وأنشأ الله من ذلك المجلس سحابة بيضاء فيسوقها الى قوم لم يعملوا خيرا قط , ويمطرها عليهم , فيصيروا كلهم من السعداء

“Tidaklah diadakan sebuah majelis ilmu atau majelis dzikir kepada Allah, melainkan Allah munculkan awan putih menaungi kaum yang tak pernah melakukan amal kebaikan sama sekali kemudian Allah turunkan hujan keatas mereka sehingga mereka menjadi orang-orang yang beruntung.”

Berkata Tuanku Al Imam Abdullah bin Alawi Al Haddad radhiyallahu anhu,“Terkadang ada sebagian orang-orang jahil menjauhi para ulama’ dan menjauhi majelisnya para ulama’, hal itu dilakukan dikarenakan takut akan mengetahui suatu ilmu yang akan mewajibkan mereka untuk mengamalkannya, mereka kira itu sebuah keudzuran, jauh, sungguh jauh sekali, bahkan hal yang demikian akan menambah penekanan dan menambah penuntutan untuk lebih mendekati majelis ilmu dan ulama’. Sebab mereka telah berpaling dari hukum-hukum Allah secara disengaja maka oleh karena itu lebih dituntut dan lebih ditekankan lagi. Padahal yang dimaksud keudzuran itu adalah setidaknya dia dirawat di pelosok-pelosok dan jauh dari penduduk Islam. Adapun jika dia seorang muslim dan pendahulunya juga orang muslim maka tak ada alasan udzur baginya”.(Tatsbitul Fu’aad).

Berkata Abu Laits, ” Barangsiapa duduk di sisi orang alim dan tidak mampu menghafal sesuatu dari ilmu, maka dia memperoleh tujuh karomah, yaitu memperoleh keutamaan orang-orang yang belajar, tercegah dari melakukan perbuatan dosa, turunnya rahmat kepadanya saat ia keluar dari rumahnya, dan manakala rahmat turun keatas orang-orang yang hadir dalam halaqah ilmu diapun juga mendapat bagian dari rahmat tersebut, ditulis baginya keta’atan selagi ia menyimak ilmu, dan jika hatinya gelisah/sumpek disebabkan tidak bisa memahami ilmu maka kegelisahan nya itu menjadi sebuah wasilah kehadirat Allah subhanahu wa ta’ala sebagaimana firman Allah :

أنا عند المنكسرة قلوبهم من أجلي

“Aku (Allah) bersama orang-orang yang pecah hatinya (sumpek) demi aku”

Artinya, Allah yang menghibur mereka dan yang menolong mereka.

Sumber : Kitab Manhajus Sawiy Syarah Ushul Thariqah Assadah Aali Ba’alawi, dalam bab anjuran menghadiri majelis ulama’.

Oleh : KH. Abbas R Mawardi

KISAH CINCIN NABI SULAIMAN AS HILANG

Walaupun Baginda Nabi Sulaiman as hebat dan pintar, namun Beliau juga pernah digoda oleh setan atau Iblis.

Dikisahakan oleh Wahab bin Munabbib.

Nabi Sulaiman as ini selalu mengenakan cincin di jarinya dan tidak pernah dilepas baik pada siang ataupun malam, kecuali kalau beliau akan masuk ke kamar kecil barulah cincin itu dilepasnya.


Kisahnya
Pada suatu hari nabi Sulaiman as akan pergi ke kamar kecil, maka cincin tersebut dititipkan kepada bawahan yang dipercayainya. Di atas cincin itu tertulis nama Allah SWT. Ketika Nabi Sulaiman as berada di kamar kecil itulah setan datang dan mendekati bawahannya yang membawa cincin. Rupa dan bentuk setan itu sama persis dengan Nabi Sulaiman as. Sang ajudan pun tidak ragu sedikitpun, lalu diserahkannya cincin itu kepada setan yang menjelma menjadi Nabi Sulaiman as tersebut.

Setelah itu, setan itu memakai cincin itu di jari manisnya.
Setan kemudian menghadap para hulu balang dan duduk dengan tenangnya di atas singgasana kerajaan Nabi Sulaiman as. Saat itu pula maka datanglah semua anggota kerajaan baik yang dari golongan jin maupun manusia, para burung dan binatang lainnya. Mereka semua mengira bahwa yang duduk di singgasana itu adalah Nabi Sulaiman as yang asli.

Ketika Nabi Sulaiman as keluar dari kamar kecil, ia meminta cincin dari anak buahnya tadi, dan betapa kagetnya si anak buah karena cincin tadi telah diberikan kepada Sang Raja. Si anak buah dengan wajah agak heran, lalu bertanya kepada Sang Raja,
"Wahai Sang Raja, siapakah Anda ini?"
"Aku adalah Rajamu wahai pengawalku."
"Ampun paduka, bukankah Tuanku tadi telah meminta cincin tersebut lalu segera pergi keluar dan duduk di singgasana kerajaan..?"

Ditolak Penduduk Sekitar
Namanya juga NABI...
Benar saja, Nabi Sulaiman as telah mengetahui bahwa sesungguhnya setanlah yang telah menipu para pengawalnya.
Nabi Sulaiman as akhirnya memutuskan untuk pergi meninggalkan istana menuju tempat yang sepi, yaitu di hutan. Dalam perjalanannya yang jauh itu, kadang-kadang beliau terpaksa meminta makanan kepada penduduk sekitar.

Orang-orang kampung bertanya,
"Wahai Saudara, siapakah Anda ini?"
"Aku adalah Sulaiman bin Dawud," jawab Nabi Sulaiman as.
"Kami tidak percaya. Kalau engkau adalah Sulaiman bin Dawud, pastilah engkau memakai cincin yang bertuliskan Allah SWT," sergah salah seorang penduduk.

Orang-orang penduduk sekitar tidak percaya sama sekali dengan pernyataan Nabi Sulaiman as.
Akhirnya Nabi Sulaiman melanjutkan perjalanan lagi, mengembara selama 40 hari 40 malam dengan menanggung rasa lapar yang amat sangat dan pakaian yang compang-camping, lagi kepalanya terbuka. Beliau datang ke pesisir pantai dan berteman dengan para nelayan yang mencari ikan di laut.

Dibantu Anak Buahnya yang Alim
Pada suatu hari, Ashif bin Barkhaya (seseorang yang diberi ilmu oleh Allah SWT, yang juga anak buah Nabi Sulaiman) berkata kepada kaum Bani Israil, bahwa cincin Nabi Sulaiman as telah diambil alih oleh setan, lalu Nabi Sulaiman as pergi. Ketika setan sedang sedang duduk di singgasana kerajaan, Ashif menolak dengan tegas bahwa dia bukanlah Nabi Sulaiman as. Maka setan itu pun akhirnya lari dan membuang cincin itu ke tengah laut dan dimakan ikan.

Dari situlah Allah SWT mengarahkan Nabi-Nya ke tempat para nelayan dengan tujuan agar Nabi Sulaiman as memburu ikan yang menelan cincinnya itu. Atas perintah Allah SWT, ikan itu merapat ke pinggir dan berhasil ditangkat oleh Nabi Sulaiman as. Setelah itu, perut ikan itu dibedah dan ditemukan sebuah cincin yang beliau cari.

Setelah cincin diambil dan dipakai, Nabi Sulaiman as langsung sujud syukur kepada Allah SWT.
Nabi Sulaiman as akhirnya dapat memimpin kerajaannya kembali seperti sedia kala.

Allah SWT berfirman,

وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمَانَ وَأَلْقَيْنَا عَلَى كُرْسِيِّهِ جَسَدًا ثُمَّ أَنَابَ

Artinya:
"Dan Sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat."
(QS. As-Shaad: 34).

Sabtu, 24 Oktober 2015

IHTARIQ JIN

[Habib Umar Ibn Hafizh] “Ihtariq…!!!”, Dan Jin Itupun Hilang
Seorang santri Darul Musthofa dari Malaysia mendapat kabar yang cukup mengagetkan dari keluarganya di rumah. Kabarnya, ketika itu saudarinya yang di rumah sedang dirasuki oleh jin. Pihak keluarganya telah mengusahakan berbagai cara untuk mengeluarkan jin itu, tapi ternyata hasilnya nihil. Akhirnya, santri ini berinisiatif untuk meminta bantuan kepada gurunya, Guru Mulia Habib Umar bin Hafidzh. Setelah Guru Mulia selesai menunaikan salah satu sholat, santri tadi memberanikan diri maju untuk mengutarakan hajatnya. Ia pun berkata, “Ya Habib…sekarang saudari saya di Malaysia sedang dirasuki oleh jin dan jin itu sangat susah untuk dikeluarkan”. Guru Mulia langsung paham kalau santri ini sedang meminta bantuannya. Tiba-tiba Guru Mulia terlihat seperti memandang seseorang dan beliau pun berucap, “Ihtariq (artinya: terbakar kau)!!!”. Santri itu sempat bingung dengan apa yang dilakukan Guru Mulia, tapi ia hanya berhusnudzhon saja mungkin ada hikmah di balik semua ini. Lalu santri itu pun pamit untuk segera menghubungi keluarganya dan memastikan keadaan saudarinya. Dan Subhanallah…jin yang merasuki tubuh saudarinya itu telah keluar. Dan dia baru sadar maksud dari sikap Guru Mulia tadi, ternyata Guru Mulia tadi seperti memandang ke arah jin itu dan kemudian mengancamnya dengan ucapan beliau “ihtariq!!!”.
Seorang santri Darul Musthofa lain pernah ditanya oleh seorang Syekh di Tarim. Syekh itu berkata, “Apakah kau tahu mengapa gurumu sering diundang ke acara selamatan rumah baru??”. Santri itu menjawab bahwa ia tidak tahu. Lalu Syekh itu pun menjawab pertanyaannya sendiri, “Apabila gurumu itu hadir di rumah yang masih dihuni oleh jin, maka hanya dengan beliau melihat ke suatu arah, jin-jin di arah itu pun akan lari keluar dari rumah baru itu dan begitu seterusnya hingga rumah itu bersih dari para jin pengganggu tersebut.
Semoga kisah ini bisa sedikit membantu untuk memperbarui masyhad kita kepada beliau. Dan mari kita doakan agar beliau dilindungi dari segala macam fitnah dan keburukan dzhohir maupun bathin. Dan semoga beliau selalu diberikan sehat ‘afiyah dan dipanjangkan umurnya, aamiin…
Sumber: Ustadz Husnul Yaqin

Tiga Golongan paling dekat kedudukannya dengan Rasulullah saw

Tiga Golongan Manusia yang paling dicintai dan paling dekat kedudukannya dengan Rasulullah Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam pada Yaumil Akhir
Guru Mulia Assayyid AlHabib Umar bin Hafidz:
Kita harus selalu ingat dan mengingatkan satu sama lain bahwa kedekatan kita kepada Rasulullah (Salam dan Rahmat Allah atasnya) dalam kehidupan berikutnya tergantung dengan tingkatan akhlak kita.
Hanya orang yang memiliki akhlak mulia pantas untuk berada di hadapan Pemilik dari akhlak yang mengagumkan (semoga Allāh memberkatinya dan memberinya kedamaian).
"Nabi yang akhlaknya paling mengagumkan, dihormati oleh Yang Maha Pengasih dalam Induk semua Buku"(AlQur'an)
(Syair Imam AlHaddad Yang Tertulis diatas Pintu Makam Rasulullah)
Lihatlah hubungannya dengan ketiga hadis di bawah ini:
"Sesungguhnya yang paling aku cintai di antara kamu dan yang paling dekat duduknya denganku pada hari kiamat, adalah yang paling baik akhlaknya"
Di riwayatkan oleh Imam Ahmad, al-Tabarani, Ibn Hibban, (sahih)
"Orang-orang yang paling dekat denganku pada hari kiamat adalah orang-orang yang memberikan paling banyak sholawat padaku"
al-Tirmidhi dan Ibn Hibban
"Orang-orang yang paling dekat dengan tempat Nabi adalah ulama dan para syuhada. Para ulama membimbing orang lain untuk apa yang di bawa Rasulullah, dan para syuhada mengorbankan hidup mereka untuk itu.
(Abu Nu`aym)
Hati siapapun yang memiliki akhlak yang baik terhubung ke Rasulullah dan Allāh dan hubungan ini mendorong orang tersebut untuk menghabiskan sebagian besar waktunya melimpahkan sholawat atas Rasulullah (semoga Allāh memberkatinya dan memberinya kedamaian). Demikian juga orang yang mencurahkan sholawat yang berlimpah kepadanya akan menerima sebagian dari akhlak mulia Nabi.
Kemudian melalui akhlak dan ilmu pengetahuan Nabi akan diberikan kepadanya sehingga ia mengorbankan diri demi agama dan menyibukkan dirinya menyampaikan dan menjelaskan pesan dan ajaran Nabi Shallallahu alaihi wa alaa aalihi wasallam.
Allahuma soli ala sayidina Muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim

Hakikat Kehidupan dan Kematian

Habibana Munzir bin Fuad Almusawa Alaihi Rahmatullah:
-- Hakikat Kehidupan dan Kematian --
Diriwayatkan dalam riwayat yang tsiqah (kuat) ketika seorang raja mengadakan pesta untuk merayakan kekuasaannya yang semakin luas dan kuat, tentaranya yang semakin banyak, harta yang semakin berlimpah, dan semua yang ia inginkan mampu ia perbuat, maka ia merayakannya dengan pesta dan tidak satu pun yang bisa mengganggunya, maka ketika itu datanglah seseorang ke istana raja itu dan mengetuk pintu.
Maka para penjaga di pintu pertama membukakan pintu, dan orang itu menyampaikan bahwa dia ingin menemui raja, maka penjaga pintu berkata bahwa sang raja lagi mengadakan pesta kemudian mengusirnya. Maka orang itu berpindah ke pintu yang kedua dan mengatakan bahwa ia ingin bertemu raja, penjaga pintu kedua pun berkata hal yang sama, maka orang itu berkata : “aku adalah utusan” namun penjaga pintu kedua tetap mengusirnya, maka ia pun pergi ke pintu yang ketiga dengan mengetuk pintu yang mana ketukan itu seakan membuat guncang seluruh istana dan merobohkan singgasana, ia berkata : “aku adalah malaikat sakaratul maut yang datang untuk mencabut ruh sang raja”.
Maka raja pun sangat terkejut dan ketakutan, karena jika tamu itu telah datang maka tidak seorang pun bisa menolaknya, dan malaikat itu berada di hadapan sang raja, maka raja itu berkata : “aku baru saja akan meneguk minumanku untuk merayakan pesta kemenangan, maka izinkanlah aku untuk meneguk segelas minuman ini, lalu cabutlah nyawaku”, maka malaikat sakaratul maut berkata : “ engkau telah ditentukan untuk wafat sebelum engkau meneguk air ini”.
Maka raja pun terjatuh kemudian dimasukkan ke dalam perut bumi, dan disana dia telah bersama tentara-tentara kematian, mereka yang menjemput ruh dan memisahkannya dengan jasad dan menghantarkannya ke alam barzakh dalam keluhuran atau kehinaan .
Dan ketika ruh seseorang telah berada dalam genggaman tentara kematian, maka di saat itu beruntunglah para pencinta sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Jika sudah terlepas dari semua yang kita miliki, dari keluarga, teman dan kerabat lalu ditinggal sendiri di dalam kubur dan ruh telah dibawa oleh pasukan kematian, maka disaat itu tidak ada lagi yang bisa dibanggakan, dan dosa-dosa telah bertumpuk dan siap untuk dipertanyakan dalam keadaan sendiri di alam yang asing, dalam keadaan nasib yang membingungkan,
Maka di saat tidak ada yang lebih bergembira dari mereka yang mencintai nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, mereka dikenal di alam kubur karena para tentara kematian mengenali nama Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagaimana ucapan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam : “Semua alam semesta mengenal bahwa aku adalah utusan Allah, kecuali pendosa dari kalangan jin dan manusia mereka tidak mengenalku”.
Wallahu a'lam
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala alihi washobihi wasalim