Sayyidina Umar Sang Pecinta - AlHabib Umar bin Hafidz
Senin, 22 Juni 2020
Senin, 08 Juni 2020
Adab Minum
1. Berkata Abah Sekumpul, "Apabila minum air putih atau minum obat bacalah,
ﻧﻮﻳﺖ ﺷﻔﺎﺀ ﺑﺒﺮﻛﺔ ﺍلمصطفى صلى ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . "Bismillahirrohmanirrohim nawaitussyifa' bibarokatil Musthofa shollallohu alaihi wasallam".
Artinya, Aku niat memperoleh kesembuhan berkat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. ❣Fadilahnya dijauhkan dari segala penyakit dzohir batin dan seluruh anggota badan ❣Dimudahkan berbuat ketaatan berkat Nuur Muhammad saw.
2. Berkata Hababah Nur Al Haddar (istri Habib Umar bin Hafidz), "Kapanpun kalian akan minum air katakan di depan air itu:
ﻳﺎﻣﺎﺀ ... ﻣﺎﺀ ﺯﻣﺰﻡ ﻳﻘﺮﺋﻚ ﺍﻟﺴﻼﻡ
(ya maa', maa'u zam-zam yuqri'ukassalam)
Artinya: Wahai air, air zam-zam memberimu salam. ❣Fadilahnya air itu akan menyerupai air zam zam
3. Berkata Syaikh Muhammad Mutawalli As Sya'rowi (waliyulloh dzurriyah Nabi asal Mesir Rahimahullaahu Ta'ala), "Apabila seseorang minum air putih hendaklah,
▶️- Duduk,
▶️- Minum dengan tangan kanan,
▶️- Minum dengan 3 kali tegukan.
Tegukan pertama diawali ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ dan diakhiri ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ , Tegukan kedua diawali ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ dan diakhiri ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ , tegukan Ketiga diawali ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ dan diakhiri ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ " ❣Fadilahnya barangsiapa yang minum dengan adab di atas, maka tidak akan timbul keinginan berbuat maksiat kepada Alloh ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ walaupun sebesar biji zarroh selama air itu berada di tubuhnya. ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ...
Allohuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'ala 'alihi wa shohbihi wa salim...
ﻧﻮﻳﺖ ﺷﻔﺎﺀ ﺑﺒﺮﻛﺔ ﺍلمصطفى صلى ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ . "Bismillahirrohmanirrohim nawaitussyifa' bibarokatil Musthofa shollallohu alaihi wasallam".
Artinya, Aku niat memperoleh kesembuhan berkat Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam. ❣Fadilahnya dijauhkan dari segala penyakit dzohir batin dan seluruh anggota badan ❣Dimudahkan berbuat ketaatan berkat Nuur Muhammad saw.
2. Berkata Hababah Nur Al Haddar (istri Habib Umar bin Hafidz), "Kapanpun kalian akan minum air katakan di depan air itu:
ﻳﺎﻣﺎﺀ ... ﻣﺎﺀ ﺯﻣﺰﻡ ﻳﻘﺮﺋﻚ ﺍﻟﺴﻼﻡ
(ya maa', maa'u zam-zam yuqri'ukassalam)
Artinya: Wahai air, air zam-zam memberimu salam. ❣Fadilahnya air itu akan menyerupai air zam zam
3. Berkata Syaikh Muhammad Mutawalli As Sya'rowi (waliyulloh dzurriyah Nabi asal Mesir Rahimahullaahu Ta'ala), "Apabila seseorang minum air putih hendaklah,
▶️- Duduk,
▶️- Minum dengan tangan kanan,
▶️- Minum dengan 3 kali tegukan.
Tegukan pertama diawali ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ dan diakhiri ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ , Tegukan kedua diawali ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ dan diakhiri ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ , tegukan Ketiga diawali ﺑﺴﻢ ﺍﻟﻠﻪ dan diakhiri ﺍﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ " ❣Fadilahnya barangsiapa yang minum dengan adab di atas, maka tidak akan timbul keinginan berbuat maksiat kepada Alloh ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ ﻭﺗﻌﺎﻟﻰ walaupun sebesar biji zarroh selama air itu berada di tubuhnya. ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺁﻝِ ﺳَﻴِّﺪِﻧَﺎ ﻣُﺤَﻤَّﺪٍ ...
Allohuma sholi 'ala sayidina Muhammad nabiyil umiyi wa 'ala 'alihi wa shohbihi wa salim...
Kamis, 04 Juni 2020
Ketika Orang Afrika masuk Islam hanya karena memandang Al-Habib Umar bin Hafidz
Beberapa tahun yang lalu kami berada di Nairobi (Ibu Kota
Kenya) " Al-Habib Ali Al-Jufri bercerita dihadapan para jama'ah di
Kenya.
_
"Kala itu Kami bersama Habib Umar menjenguk Syaikh Sholih, kemudian kami langsung menuju bandara untuk melanjutkan penerbangan. Habib Umar menaiki mobil dan saya menaiki mobil yang lain. Ketika kami sampai di Bandara, tiba-tiba ada seorang tak dikenal, dia merupakan penduduk asli Afrika. Dia bertanya kepada supir yang duduk disebelah saya :
_
"Siapakah mereka ? Siapa mereka itu ? " sambil menunjuk ke arah Habib Umar dan rombongan yang baru saja turun dari mobil.
_
"mereka adalah orang-orang Islam"
_
Orang Afrika itu lantas berkata :
_
" kalau begitu aku juga ingin menjadi muslim "
_
Supir yang mendampingi saya itu jelas kaget dan bertanya :
_
" apa yang engkau ketahui tentang Islam ? "
_
" aku tidak ingin mengetahui apa-apa dulu.. Aku hanya ingin menjadi seperti mereka " Jawab orang Afrika itu.
_
Habib Umar akhirnya menuntunnya membaca 2 kalimat Syahadat dan memberinya nama: Muhammad Nur. Habib lalu berkata kepadanya :
_
" Masuklah bersama kami ke ruang tunggu bandara "
_
Para pendamping Habib berkata :
_
" Habib, Sebentar lagi pesawat akan terbang"
_
" tidak.. Biarkan dia masuk bersama kita" Jawab Habib Umar
_
" tapi mungkin Habib tidak akan bisa duduk bersamanya kecuali 5 menit saja "
_
" biarkan dia duduk bersama kita meskipun hanya 5 menit " tegas Habib Umar.
dia akhirnya masuk ke bandara bersama Habib Umar dan tak disangka-sangka, ternyata pihak bandara mengumumkan bahwa penerbangan akan ditunda 2 jam kemudian. Habib Umar akhirnya mengajarkan muallaf itu cara berwudhu dan membawanya ke tempat wudhu, beliau juga mengajarinya tata cara sholat. Setelah itu ia itu sholat berjamaah bersama kami.
_
_
"Kala itu Kami bersama Habib Umar menjenguk Syaikh Sholih, kemudian kami langsung menuju bandara untuk melanjutkan penerbangan. Habib Umar menaiki mobil dan saya menaiki mobil yang lain. Ketika kami sampai di Bandara, tiba-tiba ada seorang tak dikenal, dia merupakan penduduk asli Afrika. Dia bertanya kepada supir yang duduk disebelah saya :
_
"Siapakah mereka ? Siapa mereka itu ? " sambil menunjuk ke arah Habib Umar dan rombongan yang baru saja turun dari mobil.
_
"mereka adalah orang-orang Islam"
_
Orang Afrika itu lantas berkata :
_
" kalau begitu aku juga ingin menjadi muslim "
_
Supir yang mendampingi saya itu jelas kaget dan bertanya :
_
" apa yang engkau ketahui tentang Islam ? "
_
" aku tidak ingin mengetahui apa-apa dulu.. Aku hanya ingin menjadi seperti mereka " Jawab orang Afrika itu.
_
Habib Umar akhirnya menuntunnya membaca 2 kalimat Syahadat dan memberinya nama: Muhammad Nur. Habib lalu berkata kepadanya :
_
" Masuklah bersama kami ke ruang tunggu bandara "
_
Para pendamping Habib berkata :
_
" Habib, Sebentar lagi pesawat akan terbang"
_
" tidak.. Biarkan dia masuk bersama kita" Jawab Habib Umar
_
" tapi mungkin Habib tidak akan bisa duduk bersamanya kecuali 5 menit saja "
_
" biarkan dia duduk bersama kita meskipun hanya 5 menit " tegas Habib Umar.
dia akhirnya masuk ke bandara bersama Habib Umar dan tak disangka-sangka, ternyata pihak bandara mengumumkan bahwa penerbangan akan ditunda 2 jam kemudian. Habib Umar akhirnya mengajarkan muallaf itu cara berwudhu dan membawanya ke tempat wudhu, beliau juga mengajarinya tata cara sholat. Setelah itu ia itu sholat berjamaah bersama kami.
_
" Lihatlah
".Komentar Habib Ali. " satu jam sebelumnya dia terhitung orang kafir.
tak lewat satu jam saja, hingga ia sudah sholat berjamaah bersama
orang-orang Islam.
Rabu, 03 Juni 2020
Doa Ashabul Kahfi
رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا
Rabbanaa aatinaa min ladunka rahmataw wahayyi’ lanaa min amrinaa rasyadaa
Artinya:
"Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami"(QS. al-Kahfi; 10)
Doa ini selalu dibaca oleh Ashabul Kahfi (penghuni gua) ketika dikejar, serta diintimidasi oleh raja kejam dari Romawi yang bernama Dikyanus sebagai penyembah berhala. Raja ini mempunyai kebiasaan membantai orang yang selalu menentangnya, serta selalu menyembelih hewan ternak yang dipersembahkan untuk berhala. Hal ini seperti keterangan dalam Tafsir al-Baghawi. maka ketika kita tidak menemukan jalan keluar dalam masalah yang kita hadapi, maka bacalah doa ini.
Menurut Imam Baidhawi dalam Tafsir-nya doa ini berisi tentang permintaan Rahmat Allah agar selalu turun, karena akan mendatangkan ampunan, serta mempermudah datangnya rizki, dan membawa kesentosaan serta keamanan dari musuh. Syekh Nawawi al-Bantani menambahkan, doa ini bertujuan untuk dimudahkan dalam segala urusan, terutama agar tercapai keinginan yang diharapkan.
Surat al-Kahfi itu sendiri, disebutkan oleh Rasulullah melalui jalan sahabat Anas, begini: “Surat al-Kahfi turun bersamanya sebanyak 70 ribu malaikat” (HR. Ad-Dailami, Musnad al-Firdaus, No. 6812; dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Durrul Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr, IX: 479). Juga tentang al-Kahfi diriwayatkan dari jalan Abdullah bin Mughoffal bahwa Nabi Muhammad bersabda: “Rumah yang dibacakan surat al-Kahfi di dalamnya, maka setan tidak akan masuk ke rumah itu pada malam itu” (Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Durrul Mantsûr fî Tafsîr al-Ma’tsûr, IX: 479)
.
.
Doa Ashhabul Kahfi ini, menjadi salah satu sebab Allah merahmati Ashahbul Kahfi, dan Allah menidurkan mereka di gua itu sampai 309 tahun (ayat ke-25 surat al-Kahfi), sampai dibangunkan Allah kemudian dengan penuh keheranan. Doa ayat ke-10 dari surat al-Kahfi ini bisa menjadi salah satu perisai dan juga untuk mengetuk rahmat Allah
Selasa, 02 Juni 2020
Bolehkah Niat Qadha Puasa Ramadhan Sekaligus Puasa Syawal?
Kalau seseorang mengqadha puasa, berpuasa nadzar, atau berpuasa lain di bulan Syawal, apakah mendapat keutamaan sunah puasa Syawal atau tidak? Saya tidak melihat seorang ulama berpendapat demikian, tetapi secara zahir, dapat.
Adapun mereka yang tidak berpuasa Ramadhan tanpa uzur diharamkan untuk mengamalkan puasa sunah Syawal. Mereka wajib mengqadha segera utang puasanya. Sedangkan mereka yang tidak berpuasa Ramadhan karena uzur tertentu, makruh mengamalkan puasa sunah Syawal.
Kalau
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/79254/bolehkah-niat-qadha-puasa-ramadhan-sekaligus-puasa-syawal
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/79254/bolehkah-niat-qadha-puasa-ramadhan-sekaligus-puasa-syawal
Kalau seseorang
mengqadha puasa, berpuasa nadzar, atau berpuasa lain di bulan Syawal,
apakah mendapat keutamaan sunah puasa Syawal atau tidak? Saya tidak
melihat seorang ulama berpendapat demikian, tetapi secara zahir, dapat.
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/79254/bolehkah-niat-qadha-puasa-ramadhan-sekaligus-puasa-syawal
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/79254/bolehkah-niat-qadha-puasa-ramadhan-sekaligus-puasa-syawal
Kalau seseorang
mengqadha puasa, berpuasa nadzar, atau berpuasa lain di bulan Syawal,
apakah mendapat keutamaan sunah puasa Syawal atau tidak? Saya tidak
melihat seorang ulama berpendapat demikian, tetapi secara zahir, dapat.
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/79254/bolehkah-niat-qadha-puasa-ramadhan-sekaligus-puasa-syawal
Sumber: https://islam.nu.or.id/post/read/79254/bolehkah-niat-qadha-puasa-ramadhan-sekaligus-puasa-syawal
Minggu, 31 Mei 2020
Hukum Batalkan Puasa Syawal saat Silaturahim Lebaran
Hendak tetap puasa sedang bertamu dan ditawari makan, mau membatalkan sangat disayangkan. Lalu sebaiknya bagaimana sikap ideal yang terbaik untuk diambil, tetap berpuasa atau membatalkannya?
Dalam kondisi seperti ini, menarik sekali pilihan sikap yang diteladankan oleh Nabi Muhammad SAW, yaitu ketika ada sebagian sahabat yang bersikukuh puasa sunnah di tengah jamuan makanan ia bersabda:
يَتَكَلَّفُ لَكَ أَخُوكَ الْمُسْلِمُ وَتَقُولُ إنِّي صَائِمٌ، أَفْطِرْ ثُمَّ اقْضِ يَوْمًا مَكَانَهُ
Artinya, “Saudara Muslimmu sudah repot-repot (menyediakan makanan) dan kamu berkata, ‘Saya sedang berpuasa?’ Batalkanlah puasamu dan qadha’lah pada hari lain sebagai gantinya,” (HR Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi).
Artinya, “Saudara Muslimmu sudah repot-repot (menyediakan makanan) dan kamu berkata, ‘Saya sedang berpuasa?’ Batalkanlah puasamu dan qadha’lah pada hari lain sebagai gantinya,” (HR Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi).
Kemudian dari sinilah para ulama merumuskan, ketika tuan rumah keberatan atas puasa sunnah tamunya, maka hukum membatalkan puasa sunnah baginya untuk menyenangkan hati (idkhalus surur) tuan rumah adalah sunnah karena perintah Nabi SAW dalam hadits tersebut. Bahkan dalam kondisi seperti ini dikatakan, pahala membatalkan puasa lebih utama daripada pahala berpuasa. (Lihat Abu Bakar bin Syatha Ad-Dimyathi, I’anatut Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: tanpa catatan tahun], juz III, halaman 36).
Dalam konteks ini Ibnu ‘Abbas RA mengatakan:
مِنْ أَفْضَلِ الْحَسَنَاتِ إِكْرَامُ الْجُلَسَاءِ بِالْإِفْطَارِ
Artinya, “Di antara kebaikan yang paling utama adalah memuliakan teman semajelis dengan membatalkan puasa (sunnah),” (Lihat Al-Ghazali, Ihya ‘Ulumiddin, [Beirut, Darul Ma’rifah, tanpa catatan tahun], juz II, halaman 14).
Dengan demikian kita ketahui, untuk menjalankan puasa sunnah bulan Syawal saat silaturahmi lebaran hendaknya diketahui, apakah tuan rumah berkeberatan atau tidak dengan puasa kita. Kalau ia tidak berkeberatan maka kita tetap berpuasa. Bila ia keberatan, maka lebih utama kita memakan hidangannya dan berpuasa di hari-hari bulan Syawal lainnya. Wallahu a’lam.
Sumber:
Sumber:
Empat Jenis Pertanyaan yang Perlu Diketahui menurut Imam Al-Ghazali
واعلم أن مرض الجهل أربعة أقسام: ثلاثة لاعلاج لها وواحد يمكن علاجه
Artinya, “Ketahuilah, penyakit kebodohan ada empat jenis. Tiga di antaranya tidak dapat disembuhkan. Tetapi satu lainnya kemungkinan dapat disembuhkan,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Khulashatut Tashanif fit Tashawwuf pada Majmu’atu Rasa’ilil Imam Al-Ghazali, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: tanpa tahun] halaman 189).
Artinya, “Ketahuilah, penyakit kebodohan ada empat jenis. Tiga di antaranya tidak dapat disembuhkan. Tetapi satu lainnya kemungkinan dapat disembuhkan,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Khulashatut Tashanif fit Tashawwuf pada Majmu’atu Rasa’ilil Imam Al-Ghazali, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: tanpa tahun] halaman 189).
Pertama, pertanyaan atau keterangan pengantar yang bersumber dari hasad atau kedengkian. Hasad adalah penyakit yang (hampir-hampir) tidak dapat disembuhkan. Setiap kali pertanyaan ini dijawab dengan beragam penjelasan dan jawaban sebaik apapun, maka jawaban itu hanya menambah hasad orang yang bertanya. Hasad orang itu akan menambah kesombongan pasien.
Al-Imam Al-Ghazali menyarankan kita untuk tidak menjawab pertanyaan jenis ini. Ia mengutip syair sebagai berikut:
كلُّ العداوة قد ترجى إزالتها إلا عداوة من عاداك من حسد
Artinya, “Setiap permusuhan terkadang dapat diharapkan hilang (padam) kecuali permusuhan yang memusuhimu karena hasad,” (Lihat Imam Al-Ghazali, Khulashatut Tashanif fit Tashawwuf: 189). Al-Imam Al-Ghazali menyarankan kita untuk mengabaikan dan berpaling dari pertanyaan orang dengki sebagai bentuk pengamalan Surat An-Najm ayat 29. Penjelasan dan upaya penyembuhan ketidaktahuan seseorang yang dilatari kedengkian hanya akan menyalakan api kedengkiannya. Pasalnya, pertanyaan yang dilontarkan memang bukan diniatkan untuk mengobati ketidaktahuannya, tapi karena kedengkiannya.
فَأَعْرِضْ عَنْ مَنْ تَوَلَّى عَنْ ذِكْرِنَا وَلَمْ يُرِدْ إِلَّا الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
Artinya, “Berpalinglah dari orang yang berpaling dari mengingat Kami; dan yang tidak menginginkan selain kehidupan dunia,” (Surat An-Najm ayat 29).
Kedua, penyakit yang bersumber dari kedunguan dan kebebalan (al-hamaqah atau al-ahmaq). Penyakit ini hampir tidak dapat disembuhkan. Nabi Isa AS mengatakan, “Aku berdaya untuk menghidupkan orang mati. Tetapi aku tidak berdaya memperbaiki orang bebal.” Orang dungu atau bebal adalah orang yang mempelajari satu dua hari satu bab sebuah ilmu dan belum masuk sama sekali mempelajari ilmu aqli (salah satunya ilmu kalam, ilmu tauhid, atau ilmu logika) dan ngeyelnya setengah mati. Orang seperti ini dijelaskan juga tidak mau mengerti karena bawaan ilmu segenggam atau seujung kuku. Tetapi nahasnya dengan bekal ilmu sehari atau dua hari itu, ia mengajukan pertanyaan (sejenis sanggahan atau penolakan) kepada ulama yang menghabiskan usianya untuk mempelajari dan memperdalam berbagai ilmu pengetahuan yang serumpun. Orang dungu atau bebal tidak menyadari penolakan atau sanggahan seorang pelajar pemula kepada seorang alim (guru) besar bersumber dari kebodohan dan ketidaktahuan. Ia tidak menyadari kemampuan dirinya dan kapasitas keilmuan guru besar tersebut karena kedunguan dan kebebalannya. Oleh karena itu, kita disarankan untuk berpaling dan mengabaikan jawaban untuk orang seperti ini. (Lihat Imam Al-Ghazali, Khulashatut Tashanif fit Tashawwuf: 189).
Pada kesempatan lain, Imam Al-Ghazali mengatakan, orang dungu atau bebal adalah orang yang menuntut sedikit (kurang dari satu bab) dari bagian ilmu sebentar atau instan (zamanan qalilan) baik ilmu aqli maupun ilmu syariat. Ia mencoba mengajukan pertanyaan kepada seorang ulama besar yang menghabiskan umurnya untuk ilmu aqli dan ilmu sya’ri. Tetapi konyolnya, ia menyangka bahwa sebuah materi pengetahuan yang problematik (musykil) menurutnya juga musykil menurut si alim besar. (Lihat Imam Al-Ghazali, Ayyuhal Walad pada Majmu’atu Rasa’ilil Imam Al-Ghazali, [Kairo, Al-Maktabah At-Taufiqiyyah: tanpa tahun] halaman 283).
Ketiga, penyakit orang yang melontarkan pertanyaan karena kelemahan daya pikir atau IQ rendah (baladah atau balid). Orang ini meminta penjelasan atas ucapan ulama. Tetapi ia sebenarnya tidak memiliki kecakapan untuk memahami hakikat ucapan ulama karena keterbatasan daya pikirnya. Ia menanyakan pandangan-pandangan dan pokok pikiran ulama yang pelik, jelimet, rumit, abstrak, atau “tinggi” lagi-lagi karena keterbatasan daya jangkau pikirannya. Tetapi ia tidak menyadari kapasaitas daya pikirnya. Untuk orang ini, Imam Al-Ghazali menyarankan kita untuk mengabaikan pertanyaan mereka sesuai sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:
نحن معاشر الأنبياء أمرنا بأن نكلم الناس على قدر عقولهم
Artinya, “Kami para nabi diperintahkan untuk berbicara kepada umat manusia sesuai kapasitas daya pikir mereka.”
Keempat, penyakit orang yang mencari petunjuk dan ia memiliki kecerdasan, kecakapan, dan kapasitas serta daya pikir yang bagus untuk menerima pelajaran. Ia tidak terpengaruh dan terbawa hanyut oleh marah, syahwat, hasad, kerakusan pada harta, dan nafsu gila kekuasaan. Ia adalah orang yang mencari jalan kebenaran. Ia melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak membingungkan. Pasien seperti ini, kata Al-Imam Al-Ghazali, dapat disembuhkan. Upaya pengobatan terhadap orang seperti ini layak bahkan wajib ditempuh. Wallahu a’lam.
Sumber:
Sumber:
Langganan:
Postingan (Atom)