HOME | CARI ARTIKEL DI SINI

Kamis, 04 Februari 2016

Sayyidah Nafisah dan Imam Syafi'i

Sayyidah Nafisah Ath-Thahirah bintu Al Imam Hasan Al-Anwar bin Imam Zaid Al-Ablaj bin Imam Hasan Sibthi bin Imam Ali bin Abi Thalib
-----------------------------
selama hidupnya beliau telah mengkhatamkan al-Quran sebanyak 4000 kali. Selain itu, meskipun tinggal jauh dari tanah suci, beliau melakukan ibadah haji sebanyak 17 kali.
Sayyidah Nafisah dan Imam Syafi'i
Sejarah sepakat mengatakan bahawa Sayyidah Nafisah semasa dengan Imam Syafie. Keduanya saling menghormati. Di ceritakan bahawa Imam Syafie meriwayatkan hadis dari Sayyidah Nafisah. Setiap berkunjung ke kediaman Sayyidah Nafisah Imam Syafie dan pengikutnya sangat menjunjung tinggi adab sopan santun terhadap beliau.
Imam Syafie setiap tertimpa penyakit selalu mengirim utusan ke Sayyidah Nafisah agar berkenan mendoakannya dengan kesembuhannya. Dan benar, setelah itu Imam Syafie mendapatkan kesembuhan. Ketika Imam Syafie tertimpa penyakit yang menyebabkan beliau wafat, Sayyidah Nafisah berkata pada utusan Imam Syafie: "Semoga Allah memberikan kenikmatan pada Syafie dengan melihat wajahNya yang mulia.”

mencari dan mendatangi orang sholeh

Al Alim Al Habib Ali Zainal Abidin bin Abdurrahman Al Jufri
Salah satu tradisi atau kebiasaan kami adalah bahwa setiap kali kami mendengar ada orang saleh di mana saja, kami akan mencari dan mendatanginya..untuk meminta doa-doanya, saran dan pandangannya.
Pada perjalanan baru-baru ini ke Republik Chechnya, Al Alim Al Habib Ali Al-Jufri (semoga Allah melindungi dan menjaganya selalu), bertemu dengan Syekh Sayyid Salim, yang berusia lebih dari 90 tahun. Beliau tinggal sendirian di pegunungan dan menghabiskan waktunya dalam ibadah dan mengingat Allah. Makan dari hasil berkebunnya dan minum dari ternak susu sapi nya.
Habib Ali mengatakan bahwa cahaya ibadah bisa dilihat di wajahnya dan kesederhanaan dari kesalehannya. Ketika Habib Ali meminta Syaikh ini untuk membuat doa, ia menjadi begitu asyik bercakap-cakap dengan Allah sehingga ia tidak menyadari ada orang di sekelilingnya. Seolah-olah dia sendirian di rumah pegunungannya itu. hanya ketika seseorang mengingatkan dia di mana dia dan dengan siapa dia berada, barulah beliau menutup doanya.
Semoga Allah senantiasa menjaga dan melindungi para shalihiin dari umat ini dimana saja mereka berada.Aamiin...

Waktu Adalah Pedang

- Kalam Al Imam Al Quthb Al Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Atthas (Huraidhah,Hadramaut)-
------------------------------------------
Nun di Huraidah. Di pedalaman lembah Hadramaut yang gersang namun penuh kesejukan itu, dua abad silam, seorang wali besar sedang khidmat menggoreskan penanya. Ia adalah Al Quthb Al Habib Abu Bakar bin Abdullah bin Thalib Al-Attas,Guru Besar dan Guru Futuh Al Imam Al Quthbul Wujud Al Habib Ali bin Muhammad Al-Habsyi (Shahibul Maulid Simthud Durror)
Beliau menulis surat untuk Sejawatnya, al-'Arif Billah Habib Aqil bin Idrus bin Aqil yang tinggal di kota Inat. Surat yang memendarkan cahaya. Bertabur nasehat-nasehat yang menyentakkan kesadaran. Terangkai dalam kalimat-kalimat liris nan sejuk di jiwa. Alhamdulillah. Forsan Salaf berhasil menelisik manuskrip bersejarah itu. Dan kini kami ketengahkan petilan-petilan surat itu dalam bentuk terjemahan.
"Hadapkanlah jiwa dan ragamu kepada Allah SWT, sepenuhnya. Kerahkan segenap upaya dan niat. Niscaya, Ia akan menggamitmu 'tuk menjadi salah seorang wali-Nya. Lalu, Ia akan mengucurkan karunia demi karunia yang bakal mendamaikan kedua pelupuk mata dan kepundan hatimu."
Demikianlah nasehat pertama yang terajut dalam surat itu. Suatu motivasi yang sangat menggugah. Untuk Habib Aqil khususnya, untuk kita umumnya. Habib Abu Bakar kemudian meneruskan, "Engkau pernah mewartakan, bahwa kini Engkau telah menertibkan mejelis telaah kitab dan belajar mengajar. Aduhai, sungguh kabar yang memercikkan bahagia. Andai aku berada di tengah-tengah kalian sana, tentu, aku kan beroleh limpahan keberuntungan."
"Keutamaan ilmu, wahai sayid, tak ada yang bisa menandinginya. Allah SWT menfirmankan,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
Dalam firman lain, Allah SWT memuji manusia yang berilmu,
قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ
Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran."
Sekaitan hal itu, Rasulullah SAW memaklumatkan, "Barangsiapa dikehendaki Allah untuk menjadi orang baik, maka, ia akan diberi pemahaman dalam ilmu agama."
"Peliharalah waktu. Waktu laksana sebilah pedang. Jika Engkau tidak menebaskannya, ia yang akan menebasmu. Sejatinya, segala cita dapat digapai dengan memanfaatkan waktu sebaik mungkin."
"Camkan sungguh-sungguh. Manfaatkanlah waktu. Sebab dengan itu, limpahan berkah bisa kau raih. Dan berkat keberkahan waktu, Engkau bisa menyaksikan ihwal-ihwal luar bisa yang begitu banyak, yang tak mungkin terdedah dalam tulisan ini. Sebenarnya, cukup dengan isyarat, orang-orang berhati bijak pasti memahaminya."
Kalimat demi kalimat terus mengalir di matras kertas itu. Penulis nampaknya menekankan paragraf yang mengulik rahasia waktu tersebut. Alangkah benar sang habib. Waktu sangatlah berharga. Teramat berharga untuk disia-siakan. Begitu dilewatkan, ia akan sirna untuk selama-lamanya.
Baris berikutnya, beliau sedikit menyentil masalah pentingnya perhatian terhadap anak-anak. "Curahkan perhatian kepada anak-anakmu. Awasilah segala tindak-tanduk mereka. Agar kelak mereka bisa membahagiakan hatimu."
IHYA ULUMIDDIN
"Tekunlah menelaahi kitab-kitab bermanfaat, terutama karya para sadah Alawiyin. Ketahuilah, karya-karya mereka adalah anggur yang sangat lezat."
Sebuah Wasiat tentang pentingnya melestarikan ilmu salaf. Kemudian Habib Abu Bakar menuangkan apresiasinya yang mendalam terhadap kitab ihya ulumiddin karya Imam al-Ghozali.
"Menelaahi kitab ihya ulumiddin dan mendalami semesta hikmahnya sangat dianjurkan para salaf. Konon, ruh penulis Ihya senantiasa hadir di setiap majelis pembacaan kitab itu. Rahasia ini kusingkap dari guru-guruku. Telaahi lebih jauh pada pasal mahabbah dan syauq, maka, Engkau akan mendapati inti dan rahasia besar yang terpendam. "
"Syukurilah curahan nikmat-nikmat-Nya padamu berupa rasa cinta kepada orang-orang baik dan fiil-fiil baik. Manakala kau bersyukur, Ia akan menambah kenikmatan padamu. Tambahan nikmat itu bisa berupa nikmat bathin dan dhahir. Pemberian-Nya tidaklah sama dengan pemberian kita. Pemberian kita terbatas dalam angka-angka. Sedang pemberiannya tak terbatas."
"Berprasangka baiklah terhadap hamba-hamba Allah. Sebab rahasia-rahasia-Nya senantiasa terpendam dalam diri mereka. Sudut-sudut bumi takkan pernah kosong dari hamba-hamba pilihan yang memanggul rahasia itu. Sepotong syair mengalun syahdu,
"Andai bukan karena mereka di tengah-tengah manusia, niscaya bumi dan gunung-gunung itu kan luluh lantak oleh terpaan dosa-dosa"
Kemudian Habib Abu Bakar menutup suratnya dengan muhasabah (intropeksi). Ia mengajak shohibnya itu untuk merenungi sisa-sisa umur.
"Ketahuilah wahai kekasihku. Umur kita telah dekat. Saat ini kita telah menapaki usia tujuh puluhan. Hati ini telah terkunci rapat untuk dunia. Dunia, bagi diri kita, hanyalah untuk mengenyangkan perut yang kelaparan, menyukupkan orang-orang yang kekurangan, meringankan beban fakir miskin, dan berbagai amal kebaikan. Adapun untuk selain itu, tak terbetik minat sedikit pun pada dunia."
Surat di atas tertulis pada 20 Sya'ban 1280 Hijriyah. Tertandai nama Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Attas. Yang menerima surat, Habib Aqil bin Idrus bin Aqil, belakangan mesanggrah di kota Surabaya dan meninggal di kota itu pada bulan Ramadhan 1316 Hijriyah. Ia di makamkan di sebelah timur makam Habib Syeh bin Ahmad Bafaqih.

BEBERAPA AMALAN MELANCARKAN REZEKI

* Al-habib abdullah al-haddad berkata: "beribadah setelah melakukan shalat subuh mempunyai keutamaan tersendiri untuk mendatangkan rizki lahiriah. Adapun beribadah setelah melakukan sholat ashar mempunyai keutamaan tersendiri untuk mendatangkan rizki batiniah. Perbuatan yang seperti itu biasa dilakukan oleh para tokoh 'arifin billah yang mengerti. Sebagaimana dalam sebuah hadis menuturkan: 'sesungguhnya seorang yang duduk ditempat shalatnya dan berdzikir kepada Allah swt setelah melakukan Shalat Subuh, maka ia akan mendapat rizki lebih cepat dari seorang yang berkelana untuk mencari rizki."
* Habib Umar Bin Hafidz menyarankan agar setiap pagi kita membaca 100x :
ﻳﺎ ﻓَﺘَّﺎﺡ
ﻳﺎ ﺭَﺯَّﺍﻕ
ﻳﺎ ﻛﺎﻓﻲ
ﻳﺎ ﻣُﻐْﻨِﻲ
Ya Fattāh,
ya Razzāq,
ya Kāfī,
ya Mughnī
Duhai Maha Pembuka Rahmat,
Maha Pemberi Rizqi
Maha Pemberi Kecukupan
Maha Pemberi Kekayaan.
Jangan lalai dari sholat Ḍuḥā.
membaca Surat al-Wāqi`ah setiap hari (ba'da Aṣr)
baca 100 x dalam sehari:
ﻻَ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻻَّ ﺍﻟﻠﻪُ ﺍﻟْﻤَﻠِﻚُ ﺍﻟْﺤَﻖُّ ﺍﻟْﻤُﺒِﻴﻦ
Lā ilāha illAllāhu-l-Maliku ‘l-Haqqu ‘l-Mubīn
“Tiada Tuhan Selain Allah, Raja, al Haqqul Mubiin
(Ba'da sholatul dzuhr).
Juga 100x dalam sehari:
ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭﺑِﺤَﻤْﺪِﻩِ ﺳُﺒْﺤَﺎﻥَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺍﻟﻌَﻈِﻴﻢ ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُ ﺍﻟﻠﻪ
Subḥānallahi wa bi hamdihi, subḥānallahi-l-
`Aẓim, astaghfirullah
(Sebelum atau sesudah sholat sunnah 2 rakaat Subuh)
* Penyebab terkuat melancarkan Rezeki itu adalah sebagaimana yang telah di tuturkan Oleh Orang-orang yang Arif.
Menegakkan Shalat dengan penuh pengagungan dan Khusyu',
Membaca Surah Al-waqi'ah terlebih di waktu malam,
Membaca Surah Yasin, dan Tabarak di waktu subuh,
Hadir ke Masjid sebelum adzan, senantiasa berada dalam keadaan suci,
Melaksanakan Shalat sunnah Fajar dan witir di rumah,
Memakmurkan Ibadah setelah shalat subuh sampai Matahari terbit dengan beri'tikaf di masjid,
membaca Doa Ini:
Ya Kaafi, ya mugni, Ya fattah, ya Razzaq. baca berulang-ulang sebanyak yang engkau mampu.
Berkata Al-imam Asy-syafi'i Rahimahullah. empat perkara yang Mudah mendatangkan rezeki.
1. menghidupkan malam
2. benyak membaca Istigfar di sepertiga malam
3. ringan bersedekah
4. berdzikir di awal hari. dan di akhir hari (Baca doa pagi dan petang).
Empat hal yang dapat mencegah datang nya rezeki.
1. Tidur di waktu subuh
2. sedikit shalat
3. Malas
4. Khianat
* Diriwayatkan bahwa suatu ketika datang seorang lelaki mengeluhkan keadaannya kepada Rasulullah saw. Ia berkata, “Dunia ini telah berpaling dariku dan yang telah kuperoleh dari tanganku sangatlah sedikit.” Rasulullah saw bertanya kepadanya, “Apakah engkau tidak pernah membaca doanya para Malaikat dan tasbihnya seluruh makhluk yang dengan itu mereka mendapat limpahan rezeki?” Lelaki itu bertanya, “Doa apakah itu wahai Rasulullah?”
Rasulullah saw menjawab, “Subhanallah wa bihamdihi subhanallahil adzim, dan beristighfarlah kepada Allah sebanyak seratus kali diantara waktu terbitnya fajar hingga menjelang waktu shalatmu, dengan itu dunia akan tunduk dan merangkak mendatangimu, dan Allah menciptakan dari setiap kalimat tersebut Malaikat yang selalu bertasbih kepada Allah hingga hari kiamat dan untukmu pahalanya.”
.
‪#‎NasehatHabibUmarbinHafidz

Selasa, 26 Januari 2016

UBAY BIN KA’AB MEMILIH DEMAM SEPANJANG HIDUP

Ubay bin Ka’ab adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad saw. yang memiliki kedudukan tinggi di sisi Nabi. Ia berasal dari kaum Anshar dari suku Khazraj. Ia masuk islam dalam Ba’iah Aqabah. Kecerdasan dan kearifannya membuatnya menjadi hafidz atau penghafal Al Qur’an dan memperoleh kepercayaan Nabi sebagai salah satu dari penulis wahyu Allah.
Pada suatu hari, Rasulullah SAW berkata kepadanya, “Hai Ubay bin Ka’ab, aku dititahkan untuk menyampaikan Al Quran kepadamu.” Dengan hati-hati ia menanyakan kepada Rasulullah saw., ”Wahai Rasulullah, ibu-bapakku menjadi tebusan anda! Apakah kepada anda disebut namaku?” Rasulullah saw. menjawab, “Benar! Namamu dan turunanmu di tingkat tertinggi.”
Lihatlah, siapa sahabat yang mulia ini, hingga Allah pun secara khusus memerintahkan Nabi untuk menyampaikan Al Qur’an kepadanya dengan menyebut namanya. Tentulah ornag yang cerdas dan bisa memahami hikmah dengan sempurna yang pantas diberi amanah Al Qur’an.
Dengan kecerdasan dan pemahaman yang dalam akan penghambaan diri di dalam islam ini pulalah ia memilih untuk menderita sakit demam sepanjang hidupnya.
Suatu ketika ada seorang lelaki yang bertanya kepada Nabi saw.tentang penyakit yang dialaminya, dan apa yang akan diterimanya karena penyakitnya tersebut. Nabi saw. bersabda, “Itu adalahpenghapus dosa (kaffarah).”
Ubay yang saat itu hadir, seketika bertanya, “Walau sakit yang sedikit, wahai Rasulullah!”
“Ya,” Kata Nabi saw., “Walau hanya tertusuk duri, atau yang lebih ringan dari itu.”
Suatu ketika Ubay bin Ka’ab merasakan demam, ia teringat akan sabda Nabi SAW tersebut, maka ia pun berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta, agar Engkau tidak menghilangkan demam panas ini dari tubuh Ubay bin Ka’ab, hingga aku bertemu dengan-Mu. Tetapi janganlah demam ini menghalangi aku dari shalat, puasa, haji dan jihad di jalan-Mu.”

Jangan Kau Puji Istrimu Didepan Ibumu

Nasihat dari :
Al Alim Al Alamah Al Habib Anis bin Alwiy al-Habsyi ra
Solo kepada Al Habib Husin Nabil Assegaf disaat
pernikahannya:
1. Jangan kau puji istrimu didepan ibumu, itu akan
mengakibatkan permusuhan antara ibumu dan istrimu.
Tetapi pujilah ibumu di depan istrimu, maka itu akan
merekatkan hubungan antara ibumu dengan istrimu.
2. Jangan kau bercerita memuji anakmu kepada orang
lain, tapi simpanlah kelebihan anakmu untuk dirimu.
Sebab orang lain hanya suka mendengarkan pujian bagi
anaknya, bukan anakmu.
sumber

Kisah Nyata Dari Seorang Wali Allah..! Menjadi Wali Karena Sabar Menghadapi Istri Super Cerewet (Enam Sifat Buruk Wanita)

Pada zaman dahulu di sebuah desa bernama Bajalhaban di negeri Hadramout, Yaman tersebutlah seorang shaleh yang dikenal dengan nama Syekh Abdurrahman Bajalhaban, beliau adalah seorang wali yang memeliki derajat yang tinggi di sisi Allah, namun beliau tidak mengetahui dirinya memiliki keistimewaan seperti itu. Beliau dikaruniai oleh Allah SWT seorang istri yang cerewet. Setiap hari kerjaannya hanya marah-marah dan ngomel-ngomel. Sedangkan Syekh Abdurrahman Bajalhaban adalah orang yang sabar beliau selalu menghadapi istrinya dengan kesabaran. Tidak pernah beliau membalas keburukan dengan keburukan, omelan dengan omelan. Seandainya beliau menghadapi sifat keras istrinya dengan kekerasan pula maka rumah tangga itu akan menjadi neraka.

Suatu saat beliau mempunyai keinginan berkholawat (Menyepi) untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT di sebuah tempat bersama orang-orang yang beribadah. Beliau merasa lebih baik aku beribadah dari pada terus-terusan bersama istri yang kerjaannya selalu ngomel melulu. Beliau pun berpamit kepada istrinya dan seperti biasa jawabannya adalah omelan dan omelan. Beliau naik ke gunung terdekat dari kotanya dan di situ beliau menemukan sekelompok orang yang sedang beribadah. Singkat cerita beliau dapat bergabung bersama mereka dengan syarat harus mau piket mencari makan untuk mereka sebagaimana adat mereka menentukan piket para anggota untuk mencari makan secara bergantian setiap harinya.

Ketika pada suatu saat beliau kena giliran piket, beliau bingung harus mencari makanan di mana. “Lebih baik aku meminta kepada Allah” gumam beliau, “Tetapi dengan siapakah aku harus bertawassul? Ah, lebih baik aku bertawassul dengan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu, meskipun aku tidak tahu siapakah yang mereka tawassuli” kata beliau dalam hati. Maka beliau pun duduk di tempat sepi mengangkat tangan seraya berdo’a, “Ya Allah berkat kemulyaan wali yang ditawassuli oleh teman-temanku itu maka turunkanlah untukku dan teman-temanku makanan yang lezat”. Seketika turunlah makanan-makanan yang lezat, beliau pun kaget serta kagum betapa tinggi kedudukan wali yang ditawassuli oleh teman-temannya sehingga sekali tawassul do’a langsung terkabul.

Teman-teman beliau kaget ketika beliau datang dengan membawa makanan yang demikian lezat mereka bertanya bagaimana kamu bisa mendapatkannya? Beliau pun menceritakan semua kejadian yang beliau alami kemudian beliau bertanya, “Siapakah orang yang kalian tawassuli itu? Demi Allah kalau bukan karena bertawassul dengan beliau belum tentu do’aku akan terkabul dengan spontan seperti yang kalian lihat” mereka pun bercerita, “Ketahuilah di desa Bajalhaban dekat pegunungan ini ada orang yang shaleh nan sabar. Beliau memiliki istri yang cerewet, namun begitu beliau sangat sabar terhadap istrinya dan tidak pernah membalas keburukan istrinya dengan keburukan serupa. Karena kesabarannya inilah Allah mengangkat derajat beliau setinggi-tingginya. Beliau dikenal dengan sebutan Syekh Abdurrahman Bajalhaban dan kami selalu bertawassul kepada Allah dengan kemulyaan beliau”.

Mendengar cerita ini Syekh Abdurrahman Bajalhaban kaget, setinggi inikah nilai kesabaran dirinya di sisi Allah SWT? Maka beliau pun berpamit pulang ke desanya tanpa mengemukakan alasan yang jelas. Karena beliau menganggap hidup bersabar bersama istri cerewet ternyata memiliki nilai lebih besar dari pada berkholwat (Menyepi) bersama orang-orang yang beribadah. Dan teman-temannya mempersilahkan beliau pulang tanpa mengetahui apa alasan beliau dan siapakah beliau sebenarnya, karena memang beliau tidak pernah memperkenalkan nama beliau kepada mereka.

Ini adalah cerita nyata yang menggambarkan beban betapa besar beban orang yang memiliki istri cerewet sehingga Allah SWT membalas kesabaran itu dengan derajat yang tinggi di sisinya. Kalau orang sekelas Syekh Abdurrahman Bajalhaban memang dapat bersabar menghadapi istrinya tetapi kalau kita yang menempati tempat beliau belum tentu kita dapat bersabar menghadapi istri seperti itu. Sehingga impian untuk menjadikan rumah tangganya sebagai “Baiti Jannati” (Rumahku Surgaku) terasa semakin jauh tercapai. Oleh karena itu berhati-hatilah dalam memilih wanita pendamping karena pernikahan bukanlah permainan, kapan kita suka kita pakai dan kapan kita bosan kita buang.

Ada orang Arab yang mengatakan “Janganlah engkau nikahi enam tipe wanita, annanah, mannanah, hannanah, haddaqah, barraqah dan syaddaqah”.

Annanah artinya suka merintih, mengeluh dan setiap saat kepalanya selalu diikat karena rasa sakit. Menikahi wanita seperti ini akan sangat merepotkan dan waktu anda akan banyak tersita. Jika anda orang yang sabar maka anda akan mendapat banyak pahala dengan kesabaran anda tetapi jika anda bukan tipe orang yang sabar maka tidak ada baiknya anda menikahi wanita yang sakit-sakitan atau yang berpura-pura sakit.

Mannanah artinya suka mengunndat-undat (menghitung-hitung kebaikannya) dan selalu mengatakan “Aku telah berbuat begini begitu demi kamu dan untuk kamu”. Hidup bersama tipe wanita seperti ini membuat diri anda selalu merasa bersalah karena telah menerima kebaikan-kebaikannya sehingga anda akan berandai-andai “Seandainya dia tidak berbuat baik kepadaku atau aku tidak menerima kebaikannya”. Jika kehidupan dalam rumah tangga seperti ini mana mungkin akan menjadi sorga dunia?.

Hannanah artinya selalu merindukan sosok suami lain atau merindukan anak dari suami lain, wanita seperti ini harus dijauhi. Dia hanya akan memakan hati para suami. Tidak mensyukuri suami yang dikaruniakan Allah kepadanya malah menginginkan suami lain. Oleh karena itu dianjurkan jangan menikahi gadis yang sudah pernah berpacaran, karena bisa saja dia akan merindukan mantan pacarnya.

Haddaqah artinya selalu memandang benda-benda berharga dan memaksa suaminya untuk membelikannya. Wanita seperti ini sebaiknya menikah dengan laki-laki yang memiliki harta tidak terbatas sehingga berapa pun barang yang dia beli kekayaan suaminya tidak akan berkurang.

Barraqah memiliki dua arti: Pertama, sepanjang siang selalu di depan cermin dan bersolek dan arti kedua, selalu murka di saat makan sehingga dia selalu makan sendiri dan selalu menyisihkan bagiannya dalam segala hal. Sungguh merupakan dua sifat yang sangat buruk. Bagaimana dia dapat melayani suami kalau kerjaannya cuma bersolek dan bagaimana dia dapat menjadi guru dari putra-putrinya kalau punya sifat suka murka dan suka marah.

Syaddaqah artinya banyak omong, cerewet dan terlalu muluk dalam berbicara, dalam haditsnya Nabi SAW bersabda,
Sesungguhnya Allah membenci orang-orang yang banyak omong dan terlalu muluk dalam berbicara.

Al-Imam Ali bin Abi Tholib ra berkata, “Sejelek-jeleknya perangai (sifat) laki-laki merupakan sebaik-baiknya perangai perempuan yaitu, pelit, tinggi hati dan penakut”. Karena seorang wanita yang pelit akan menjaga hartanya dan harta suaminya dan wanita yang tinggi hati akan merasa enggan untuk berlemah lembut terhadap orang lain selain suaminya sedangkan wanita yang penakut akan menjauhi hal-hal yang tidak dikehendaki suaminya karena dia takut terhadap suaminya.
Kecantikan wajah tidak menjamin kesejahteraan rumah tangga sedangkan kecantikan akhlaq merupakan kunci untuk mewujudkan rumah tangga bak sorga dunia. Berhati-hatilah dalam menentukan pendamping agar kita tidak menyesal karena penyesalan itu selalu terlambat datangnya.