HOME | CARI ARTIKEL DI SINI

Sabtu, 17 Oktober 2015

Waspada dalam bergaul

Mutiara kalam Al-Imam Abdullah bin Alwi Alhaddad : >>>
=========================
Hendaklah kamu menghindari persahabatan dengan orang yang dapat membuatmu menjauh
dari Allah SWT dan dari perbuatan taat kepada-
Nya, atau yang membuat kamu lupa berdzikir
kepada-Nya, baik yang ia lakukan dengan ungkapan terang-terangan ataupun yang
tersembunyi.
Menghindar dari ajakan yang melalui ucapan
yang terang-terangan tentunya sudah jelas
bagimu. Sedangkan menghindar dari ajakan
yang tersembunyi adalah dengan menyadari
bahwa untuk tidak sekalipun kamu duduk-duduk
bersama seseorang yang menyembunyikan di
dalam hatinya niatan untuk meninggalkan
berbagai ketaatan kepada Allah, atau yang
terus-menerus melakukan berbagai
pelanggaran terhadap perintah-perintah-Nya.
Tidaklah duduk-duduk dengan mereka kecuali
akan mengalir pula dari hatinya ke hatimu suatu perasaan persetujuan, walaupun hanya
sedikit, atas sikap mereka.
Maka hendaklah kamu pada jaman seperti
sekarang ini, tidak memilih duduk berbincang-bincang bersama seseorang, kecuali jika kamu
merasa yakin dapat memperoleh manfaat darinya dalam agamamu. Misalnya dengan duduk bersamanya, kamu bertambah kesadaran akan
pentingnya jalan beragama yang kamu tempuh.
Atau kamu bertambah semangat dalam upaya
meraih apa yang kamu cita-citakan. Atau kamu
sendiri yang justru dapat memberinya manfaat
dalam agamanya. Namun semua itu tidak boleh
dilakukan kecuali setelah kamu benar-benar yakin akan keselamatan diri sendiri.
Camkanlah hal ini baik-baik!!!
(al Habib Umar Alaydrus).

Perbedaan antara orang beriman dan tidak beriman

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz :
Perbedaan antara orang beriman dan tidak beriman
Orang yg tidak beriman, mungkin memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan non psikis anak. Mereka mementingkan kondisi ekonomi, pakaian, gedung, jalanan dan segala bentuk fisik. Tetapi perhatian mereka tidaklah mencapai jiwa, kecuali hanay tepinya saja, yang mereka dapati dalam kehidupan psikologi atau hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan bermasyarakat yang hanya bermanfaat bagi fisik. Terkadang mereka sadar memperhatikan jiwa seseorang, tetapi kesadaran itu sangat lemah sekali. karena itu Allah menyeru orang-orang beriman dalam firmannya
"
."Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada diri mereka sendiri.” (Qs. al-Hasyr: 19 )
Jika manusia melupakan jiwa mereka sendiri, walaupun mereka memperbaiki faktor eksternal(segala sesuatu yg diluar), maka hal itu tidak akan memberi manfaat sebenarnya, karena mereka hanya perbaiki selain mereka(segala hal lahir itu bukanlah diri kita).
dalam hal ini kita juga dapat ambil isyarat dari firman Allah:
“Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya," (Al- Kahfi: 7)
Allah tidak katakan sebagai perhiasan untuk kalian, melainkan untuknya(orang2 yg tidak beriman). Dari ayat ini kita tahu bahwa segala sesuatu yang ada dibumi ini hanyalah perhiasa bagi orang yang tidak beriman, sedangkan kita akan meninggalkan bumi ini.
Jika kita akan meninggalkan bumi yang merupakan perhiasan, lalu setelah itu apakah perhiasan yang kita miliki dan pakai?
Segala sesuatu yang tidak abadi tidak dianggap sebagai perhiasan bagi orang2 yg beriman.
Pandangan orang beriman berpola sebagai berikut: segala sesuatu yg punah difungsikan untuk yang abadi, segala sesuatu yang akan punah difungsikan sebagai alat menuai hakikat kebahagiaan yang abadi dan kekal. Ini adalah perbedaan yang tipis sekali antara orang beriman dan tidak.....
Allahuma soli ala sayidina Muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim

DO'A AWAL DAN AKHIR TAHUN

Kaum Muslimin Dan Muslima Para Perindu Kemuliaan, berikut teks Do’a Awal dan Akhir Tahun yang dianjurkan untuk kita baca ketika pergantian tahun baru Hijriyah :
a. Do’a Akhir Tahun
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِيْ هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ أَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وَلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ. وَدَعَوْتَنِيْ إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جَرَاءَتِيْ عَلَى مَعْصِيَتِكَ ,
اَللَّهُمَّ إِنِّي اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ, وَمَا عَمِلْتُهُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَأَسْأَلُكَ اللَّهُمَّ يَا كَرِيْمُ. يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ أَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَ تَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَا كَرِيْمُ, وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.
b. Do’a Awal Tahun
وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ, اَللَّهُمَّ أَنْتَ اْلأَبَدِيُّ الْقَدِيْمُ الأَوَّلُ, وَعَلَى فَضْلِكَ اْلعَظِيْمِ وَجُوْدِكَ الْمُعَوَّلِ, وَهَذَا عَامٌ جَدِيْدٌ قَدْ أَقْبَلَ, نَسْأَلُكَ الْعِصْمَةَ فِيْهِ مِنَ الشَّيْطَانِ وَأَوْلِيَائِهِ وَجُنُوْدِهِ, وَاْلعَوْنَ عَلَى هَذِهِ النَّفْسِ الأَمَّارَةِ بِالسُّوْءِ, وَاْلاِشْتِغَالَ بِمَا يُقَرِّبُنِيْ إِلَيْكَ زُلْفَى يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَاْلإِكْرَامِ, وَصَلىَ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

ahli kubur jika hidup kembali ingin hadir majelis dzikir

Al Habib 'Umar bin Hafidz : >>>
=====================
"Sesungguhnya didalam majelis-majelis dimuka bumi Allah yang dibanggakan didepan para malaaikat-malaaikatnya, sampai dikatakan oleh 'ulaama (para shoolihiin) ahli ma'rifat : bahwa seandainya ahli qubuur itu dihidupkan kembali (kedunya) maka mereka akan datang (walau dengan merangkak), dan tidak akan datang ketempat lain kecuali untuk duduk di majelis dzikir dan majelis ta'liim (karena kemulia'annya majelis dzikir dan ta'liim)."
sumber

Tentang adanya fitnah

Syekh Said Ramadlan al-Bouthy:
"Jika dalam keadaan aman dan sejahtera jauh dari fitnah, yang patut dikedepankan adalah meminta perlindungan dari Allah dari fitnah. Namun, ketika fitnah sudah menghampiri, seorang muslim pasti tahu bahwa dibalik itu ada hikmah. Nampak fitnah dan musibah , padahal sebenarnya itu anugerah yang tersembunyi."
Wallahu a'lam
Allahumma sholli 'ala Sayyidina Muhammad wa'ala alihi washobihi wasalim

Rindu Nabi Rindu Allah

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz
“Jika seseorang sudah bisa merindukan Rasulullah saw, bagaimana mungkin ia tidak merindukan Allah swt, sedangkan yang ia rindukan ialah manusia yang paling dirindukan Allah swt”
Kerinduan seseorang kepada sang Nabi saw telah di dahului oleh kerinduan beliau saw terhadapnya
Sebagaimana di riwayatkan di dalam riwayat yang tsiqah bahwa "Rasulullah s.a.w ketika sedang duduk bersama para sahabat berkata “Aku rindu… aku rindu…”,
para sahabat bertanya kepada beliau Saw,
“Siapakah gerangan yang engkau rindukan itu ya Rasulullah?”
“Aku rindu kepada saudara-saudaraku..”, jawab beliau Saw
“Bukankah kami ini saudara-mu ya Rasulullah?”, tanya para sahabat.
“Kalian sahabat-sahabatku dan aku mencintai kalian, namun aku sangat rindu kepada saudara-saudaraku”, jawab Rasulullah Saw.
Sahabat semakin penasaran dan sekali lagi bertanya kepada beliau Saw
“Ya Rasulullah, siapakah gerangan mereka yang engkau panggil dengan sebutan ‘saudaramu’ dan engkau sangat rindukan itu?”
Rasulullah Saww menjawab, “Mereka adalah umatku kelak, yang mana mereka belum pernah melihat wajahku, belum pernah bertemu denganku, belum pernah berbincang-bincang denganku, tetapi mereka sangat merindukanku dengan tulus, ikhlas dan penuh rasa hormat kepadaku, mereka adalah orang-orang yang melanjutkan perjuanganku dan tidak jarang pula mereka meneteskan air mata karena menahan rindu yang sangat kepadaku, aku rindu kepada mereka dan aku ingin bertemu dengan mereka…”
wallahualam
Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim

jalannya Sayyidina Muhammad

Guru Mulia Habib Umar bin Hafidz:" Wahai Ummat..! Ketahuilah bahwa jalannya Sayyidina Muhammad, dan jalannya keluarga beliau, juga jalannya para Ahlul Bayt adalah jalan penuh kesucian, jalan penuh kelembutan, jalan penuh kecintaan, jalan penuh tangis dan Taqwa, jalan penuh tawadhu, maka barangsiapa yang mencoba memalingkan kepada jalan caci-maki dan kebencian, jalan dendam dan permusuhan maka mereka semua adalah para penipu dan pengkhianat Ummat..!"
Allahuma soli ala sayidina Muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim